REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Paparan layar kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Mulai dari menggulir video di media sosial, menonton film, hingga bekerja di depan laptop, semua aktivitas ini memberikan tekanan besar pada fungsi otak dan bisa kelelahan digital atau digital fatigue.
Ahli saraf sekaligus Group Director Neurologi di Yatharth Hospitals, dr Kunal Bahrani, menjelaskan kelelahan digital berbeda dengan rasa lelah biasa. Digital fatigue merupakan kondisi kelebihan beban neurologis yang memengaruhi fokus, daya ingat, pola tidur, hingga kemampuan mengatur emosi.
"Digital fatigue itu nyata. Kami melihat peningkatan keluhan berupa brain fog, sakit kepala, gangguan konsentrasi, mudah tersinggung, serta rasa kelelahan mental yang terus-menerus," kata Bahrani, dikutip dari Hindustan Times, Sabtu (31/1/2026).
la mengatakan saat seseorang berada di depan layar, otak dipaksa memproses banyak rangsangan sekaligus, seperti notifikasi, video, email, dan perpindahan antar aplikasi. Padahal, otak manusia tidak dirancang untuk menghadapi aliran informasi yang terus-menerus. Kondisi tersebut berdampak pada perubahan cara kerja otak.
"Perpindahan perhatian secara konstan menguras sirkuit saraf yang bertugas menjaga konsentrasi dan pengambilan keputusan. Akibatnya, otak berada dalam kondisi reaktif dan dangkal, bukan fokus mendalam," kata dia.
Dampak screen time berlebihan tidak hanya memicu kelelahan digital. Bahrani menyebut paparan layar yang tinggi dapat meningkatkan kadar kortisol, hormon stres utama dalam tubuh.
Kortisol yang terus meningkat dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi memori, keseimbangan emosi, serta sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini membuat pengguna layar berat kerap merasa cemas, gelisah, dan terkuras secara mental meski tidak banyak bergerak.
"Masalah lain yang tak kalah serius adalah gangguan tidur. Bahrani menilai penggunaan gawai, khususnya pada malam hari, berperan besar dalam merusak ritme tidur alami. Kurang tidur ini kemudian memperburuk konsentrasi, suasana hati, serta kesehatan kognitif jangka panjang," ujar Bahrani.
Menurut dia, anak-anak dan dewasa muda menjadi kelompok paling rentan karena otak mereka masih berkembang dan terbiasa dengan stimulasi digital yang cepat. Akibatnya, aktivitas dunia nyata yang lebih lambat seperti membaca atau belajar sering terasa membosankan.
Bahrani menekankan bahwa perubahan kecil dalam rutinitas harian dapat membantu mengurangi tekanan digital. la menyarankan adanya waktu bebas layar, terutama sebelum tidur, agar produksi melatonin kembali normal. Selain itu, jeda singkat setiap 30 hingga 60 menit saat menatap layar juga diperlukan untuk memberi waktu pemulihan bagi sirkuit perhatian otak.
View this post on Instagram