Jumat 27 Feb 2026 08:40 WIB

Tekanan Akademik dan Sosial Bayangi Mahasiswa, Kesehatan Mental Jadi Sorotan

Tekanan studi dan organisasi berpengaruh terhadap kesehatan mental mahasiswa.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Gita Amanda
Musisi, Danilla Riyadi (kedua kiri), Psikolog UI, Edward Andriyanto (tengah), Founder Mengenal Diri, Salma Kyana (kedua kanan) dan Mental Health Survivor, Febri Susanto (kanan) saat sesi talkshow dalam acara Out Loud, Talkshow and Healing Experiences di Aula FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026). Republika bersama Badan Konseling Mahasiswa  (BKM) FISIP UI menggelar talkhsow terkait mental health dengan tema Grow Through What You Go Through yang diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus ruang aman bagi penyintas untuk berbagi kisah dan pengalaman dalam menghadapi kondisi kesehatan mental.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Musisi, Danilla Riyadi (kedua kiri), Psikolog UI, Edward Andriyanto (tengah), Founder Mengenal Diri, Salma Kyana (kedua kanan) dan Mental Health Survivor, Febri Susanto (kanan) saat sesi talkshow dalam acara Out Loud, Talkshow and Healing Experiences di Aula FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026). Republika bersama Badan Konseling Mahasiswa (BKM) FISIP UI menggelar talkhsow terkait mental health dengan tema Grow Through What You Go Through yang diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus ruang aman bagi penyintas untuk berbagi kisah dan pengalaman dalam menghadapi kondisi kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Lulusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia angkatan 2021, Febri Susanto P, mengungkapkan tekanan akademik dan sosial masih menjadi beban yang dirasakan mahasiswa selama menjalani perkuliahan. Ia membagikan pengalamannya menghadapi tuntutan studi, aktivitas organisasi, serta proses adaptasi lingkungan yang berdampak pada kondisi kesehatan mental.

Febri menempuh masa kuliah selama empat tahun dengan mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan, antara lain Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan himpunan jurusan. Aktivitas tersebut berjalan beriringan dengan tuntutan akademik serta dinamika pergaulan yang menuntut kemampuan beradaptasi.

Baca Juga

“Kalau bicara kesibukan, hampir semua mahasiswa mengalaminya. Saya juga merasakan hal yang sama. Tekanan datang bukan hanya dari tugas-tugas akademik, tetapi juga dari lingkungan sosial,” ujarnya dalam forum diskusi yang diselenggarakan Republika bersama Badan Konseling Mahasiswa (BKM) FISIP UI di Kompleks FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026).

Ia menuturkan tekanan sosial terasa terutama pada masa awal kuliah. Sebagai mahasiswa yang berasal dari daerah, Febri harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus membangun relasi di tengah situasi perkuliahan yang sempat berlangsung daring akibat pandemi.

Kegiatan tatap muka baru dimulai pada semester tiga sehingga waktu untuk mengenal teman dan lingkungan menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut membuat proses adaptasi terasa lebih menantang dibandingkan mahasiswa yang sejak awal mengikuti perkuliahan secara langsung.

Tekanan akademik juga dirasakan melalui berbagai tugas perkuliahan. Menurut dia, beban tidak hanya berasal dari tugas individu, tetapi juga dari tugas kelompok yang menuntut koordinasi dan tanggung jawab bersama.

“Ini pengalaman pribadi saya, ketika menjadi mahasiswa justru sering kali lebih pusing dengan tugas kelompok dibandingkan tugas individu,” kata Febri.

Memasuki semester akhir, tekanan meningkat saat ia harus menyelesaikan skripsi di tengah aktivitas organisasi dan persoalan keluarga. Pada fase tersebut, Febri mulai mengalami perubahan pola hidup yang tidak sehat.

Ia mengaku sering tidur larut malam, bahkan beberapa kali tidak tidur sama sekali. Aktivitas harian tetap berjalan meski kondisi fisik menurun. Dalam satu periode, waktu tidurnya hanya sekitar satu jam untuk menjalani aktivitas selama satu hari penuh.

Kondisi tersebut semakin berat ketika ia mengalami mimpi buruk setiap kali mencoba tidur lebih lama. Situasi ini berlangsung selama dua hingga tiga pekan dan mulai mengganggu fungsi keseharian serta konsentrasinya.

“Baru saya sadar setelah melihat pola diri sendiri. Saya hanya tidur sekitar satu jam untuk beraktivitas selama 24 jam. Ketika mencoba tidur lebih lama, justru muncul mimpi buruk,” tuturnya.

Setelah menyadari kondisinya tidak normal, Febri kemudian mencari bantuan profesional. Ia sempat mendaftar layanan di Klinik Makara UI, namun waktu tunggu yang cukup panjang mendorongnya mencari alternatif yang lebih cepat.

Ia kemudian mengakses layanan Badan Konseling Mahasiswa di tingkat fakultas setelah memperoleh informasi dari dosen. Respons yang cepat membuatnya segera menjalani sesi konseling dan mendapatkan pendampingan secara profesional.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya tentang dampak tekanan akademik dan sosial terhadap kesehatan mental mahasiswa. Ia menilai kesadaran diri serta akses layanan pendampingan yang mudah dijangkau menjadi faktor penting dalam menjaga kondisi psikologis.

Fenomena tekanan berlapis di kalangan mahasiswa menunjukkan perlunya dukungan lingkungan kampus yang lebih kuat. Upaya pencegahan serta layanan yang responsif diharapkan membantu mahasiswa menjalani masa studi dengan lebih sehat dan seimbang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement