Kamis 26 Mar 2026 13:50 WIB

Menahan Reaksi di Era Serba Cepat, Psikolog Ingatkan Pentingnya Ambil Jeda

Manusia cenderung melakukan kesalahan saat terlalu mengandalkan pemikiran cepat.

Psikolog Irma Agustina mengatakan pentingnya mengambil jeda sebelum membuat keputusan.
Foto: Republika/Indira Rezkisari
Psikolog Irma Agustina mengatakan pentingnya mengambil jeda sebelum membuat keputusan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Arus informasi di ruang digital Indonesia bergerak semakin cepat. Hanya dalam hitungan jam, sebuah video singkat, tangkapan layar, atau pernyataan di media sosial dapat menjadi viral dan memicu ribuan reaksi publik. Dalam situasi seperti ini, masyarakat kerap bereaksi spontan dengan mengklik, berkomentar, hingga membagikan konten bahkan sebelum informasi terverifikasi secara utuh.

Fenomena tersebut, menurut psikolog Irma Agustina, menunjukkan kecenderungan baru dalam perilaku digital yaitu respons instan yang semakin dianggap wajar. “Kita sering tidak menyadari bahwa setiap interaksi digital melibatkan keputusan-keputusan kecil yang terjadi berulang sepanjang hari,” ujarnya, dikutip dari siaran pers, Kamis (26/3/2026).

Baca Juga

Keputusan-keputusan mikro ini, lanjut Irma, mencakup hal sederhana seperti menentukan apakah suatu informasi benar, layak dibagikan, atau perlu ditanggapi. Namun dalam derasnya arus informasi, ruang untuk berpikir reflektif semakin menyempit.

Konsep ini sejalan dengan pemikiran psikolog peraih Nobel, Daniel Kahneman, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow. Kahneman menjelaskan, manusia cenderung melakukan kesalahan saat terlalu mengandalkan pemikiran cepat tanpa memberi ruang pada proses berpikir yang lebih lambat dan rasional.

Di era notifikasi tanpa henti, kondisi ini juga dikenal sebagai micro decision fatigue, yakni kelelahan akibat otak terus-menerus mengambil keputusan kecil. Akibatnya, individu menjadi lebih reaktif dan kurang reflektif dalam merespons informasi.

Sebagai upaya sederhana untuk mengatasinya, Irma menyarankan penerapan “jeda sejenak” sebelum bertindak di ruang digital. “Memberi waktu beberapa detik dapat membantu menenangkan pikiran sebelum mengambil keputusan,” katanya.

Ia merekomendasikan beberapa langkah praktis, seperti menarik napas dalam, menutup mata sejenak, atau melakukan peregangan ringan. Selain itu, masyarakat juga dapat mencoba aktivitas micro-break yang dirancang untuk memberikan jeda dari paparan digital.

Dalam pendekatan tersebut, diperkenalkan prinsip “JEDA”: Jangan reaktif, Evaluasi informasi, Double-check, dan Ambil keputusan dengan tenang. Prinsip ini bukan aturan baku, melainkan pengingat agar individu lebih sadar dalam setiap respons digital.

Menurut Irma, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi keterampilan penting yang mulai jarang digunakan di tengah budaya serba cepat. “Sering kali, yang kita butuhkan untuk melihat sesuatu dengan lebih jernih bukan waktu lama, tetapi hanya beberapa detik sebelum bereaksi,” ujarnya.

Berita Lainnya

Rekomendasi