Selasa 23 Jul 2024 18:10 WIB

Bukan cuma Pencernaan, Sakit Perut Bisa Jadi Tanda Anak Alami Masalah Kecemasan

Orang tua perlu peka dengan kondisi anak, termasuk tanda anak mengalami kekerasan.

Kekerasan terhadap anak (ilustrasi). Dokter mengatakan sakit perut ternyata bisa menjadi salah satu tanda anak mengalami masalah kecemasan.
Foto: www.freepik.com
Kekerasan terhadap anak (ilustrasi). Dokter mengatakan sakit perut ternyata bisa menjadi salah satu tanda anak mengalami masalah kecemasan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis jiwa dari RSUD Tarakan Jakarta dr Zulvia Oktanida Syarif mengatakan bahwa sakit perut ternyata bisa menjadi salah satu tanda anak mengalami masalah kecemasan. Karena itu, Zulvia mengimbau para orang tua perlu peka terhadap anak dan jangan langsung melakukan judging pada mereka. 

“Kalau anak, bisa ditandai dengan dia sakit perut dan nggak masuk sekolah. Misalnya, sudah diperiksa ke dokter anak dan nggak ada masalah, berarti ada tanda tanya,” kata Zulvia pada diskusi daring yang digelar oleh RSUD Tarakan Jakarta dalam rangka Hari Anak Nasional pada Selasa (23/7/2024). 

Baca Juga

Jika anak mengalami hal tersebut, orang tua bisa mencoba menganalisis apa yang terjadi. Misalnya, anak jadi tidak ingin sekolah, orang tua bisa mencoba mencari tahu apa yang anak alami di sekolah. 

Zulvia menambahkan, peran dan kepekaan orang tua memang sangat diperlukan untuk mengatasi kekerasan pada anak. Sebab, tak semua anak bisa mengatakan atau mengekspresikan apa yang terjadi pada diri mereka dengan baik. 

"Jadi kita harus 'aware' sama perubahan perilaku anak-anak. Karena mereka nggak langsung bisa menyampaikan," kata Zulvia. 

Zulvia mengatakan, seorang anak yang mengalami gangguan kecemasan juga umumnya mengalami gejala seperti ketakutan, gelisah dan rewel apabila anak yang mengalaminya masih terlalu kecil. Selain lebih peka terhadap pola perilaku anak, Zulvia juga mengimbau agar para orang tua dapat menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya. Dengan demikian anak pun akan merasa lebih nyaman dan lebih terbuka dengan orang tuanya.

Ia juga mengimbau masyarakat tak meremehkan atau mengabaikan dan membiarkan anak yang mengalami kekerasan. Sebab, menurut Zulvia, seorang anak yang mengalami kekerasan berisiko tinggi mengalami gangguan mental di kemudian hari. 

Bahkan, hal ini juga bisa berdampak pada kemampuannya untuk membangun hubungan yang sehat dan menjalin kehidupan yang produktif. "Kalau kita biarkan jangka panjang, tentunya ini akan berdampak pada kesehatan anak baik fisik maupun mental. Dan untuk relasi dia. Anak bisa jadi punya 'trust issue' saat dewasa," kata Zulvia.

Ia menjelaskan bahwa orang tua juga perlu mengetahui kekerasan memiliki banyak jenis, yakni kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan emosional dan penelantaran.

"Karena itu, orang tua perlu mewaspadai apabila anaknya mengalami gejala kesehatan mental akibat kekerasan," kata Zulvia. 

Gejala gangguan kesehatan mental yang dapat dialami anak korban kekerasan di antaranya adalah kecemasan, depresi, gangguan stres pasca trauma (PTSD) dan masalah perilaku.

"Kalau sudah seperti itu, cari tahu apa penyebabnya dan bawa konsultasi ke profesional sesegera mungkin," kata Zulvia.

Selain itu, kata Zulvia, apabila anak mengalami tindak kekerasan, orang tua bisa melakukan penanganan pertama. Hal pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah mengamankan anak dan menberi dukungan emosional. 

Zulvia menegaskan orang tua perlu menunjukkan empati dan jangan mengeluarkan perkataan yang menyalahkan anak. Kemudian, hindari menginterogasi anak dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya harus menceritakan pengalamannya berkali-kali.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement