Selasa 02 Apr 2024 18:50 WIB

Anak Kena 'Flu Singapura', Dokter: Jangan Masuk Sekolah 5-7 Hari

Balita lebih rentan terkena flu singapura.

Anak sakit (ilustrasi). Lesi flu singapura baru akan hilang setelah sekitar tujuh hari.
Foto: www.pixabay.com
Anak sakit (ilustrasi). Lesi flu singapura baru akan hilang setelah sekitar tujuh hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang tua perlu mewaspadai penyakit hand, foot and mouth disease (HFMD) alias penyakit tangan, kaki, dan mulut. Penyakit yang lebih dikenal dengan julukan flu singapura itu mudah menular pada anak usia di bawah lima tahun, sementara orang dewasa juga bisa kena meski sangat jarang.

Agar anak lain tak tertular, Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo Sp.A(K) menyerukan agar anak yang menderita HFMD perlu diisolasi. Anak harus izin dari sekolah selama kurang lebih lima hingga tujuh hari.

Baca Juga

Flu singapura, lanjut Prof Edi, bisa sembuh dengan sendirinya dalam dua hingga tiga hari. Hanya saja, lesinya baru akan hilang setelah sekitar tujuh hari.

Pada anak yang menderita flu singapura, Prof Edi menganjurkan pengobatan simtomatik, misalnya dengan pemberian obat pereda demam jika suhu badan anak naik. Selain itu, pastikan agar anak istirahat yang cukup.

 

Sampai saat ini, menurut Prof Edi, vaksinasi untuk HFMD belum ada di Indonesia. Pencegahannya sama seperti saat pandemi, yakni menjaga kebersihan, sering mencuci tangan terutama jika kontak dengan penderita, sanitasi peralatan makan atau mainan anak yang terkena flu singapura dan penuhi asupan gizi anak.

"Penuhi asupan gizi serta cairan untuk menjaga daya tahan tubuh anak agar tak mudah tertular flu singapura," tutur dokter spesialis anak lulusan Universitas Gajah Mada ini dalam diskusi daring yang diikuti, Selasa (2/4/2024).

Profesor Edi mengatakan flu singapura yang oleh infeksi coxsackie virus A16 (cox 16) dan enterovirus 71 (EV 71). Keduanya termasuk dalam kelompok virus RNA yang menyebabkan lesi pada telapak tangan, telapak kaki, dan mulut.

"Definisi flu singapura adalah kumpulan gejala adanya lesi kulit memerah terutama di telapak tangan, kaki dan mulut, yang disebabkan virus dan banyak menyerang bayi dan balita usia kurang dari lima tahun, yang jadi faktor risiko anak kurang dari lima tahun," kata Prof Edi.

Prof Edi mengatakan penularan HFMD hampir sama dengan Covid-19, yakni adanya kontak dengan penderita atau droplet. Penularan bisa terjadi secara langsung misalnya karena batuk, bersin, terkena air liur secara oral, dan dari kotoran atau feses.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement