Selasa 02 Apr 2024 16:36 WIB

Kenali Gejala Flu Singapura, Tata Laksana, dan Pencegahannya

Belum ada antivirus khusus untuk flu singapura sehingga anak diimbau istirahat cukup.

Rep: Santi Sopia / Red: Friska Yolandha
Pasien anak (ilustrasi). Flu singapura sering menyerang anak usia kurang dari lima tahun.
Foto: ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
Pasien anak (ilustrasi). Flu singapura sering menyerang anak usia kurang dari lima tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Flu Singapura atau istilah yang lebih tepatnya, yaitu penyakit tangan, kaki, dan mulut (HFMD), cukup sering terjadi pada anak dan balita di Indonesia. Menurut Prof Edi Hartoyo, Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, penyakit ini kerap disebut Flu Singapura karena pernah menjadi wabah yang menyebabkan kematian di Singapura.

"Yang benar penyakit tangan, kaki dan mulut. Ini disebabkan virus dan menyerang usia kurang dari lima tahun, pada orang dewasa sangat jarang. Jadi faktor risikonya usia anak kurang dari lima tahun," kata Prof Edi dalam pertemuan zoom, Selasa (2/4/2024).

Baca Juga

Penyebab penyakit ini adalah virus RNA. Di Malaysia pernah terjadi kasus pada 1997, Singapura tahun 2000, dan Taiwan menginfeksi 120 ribu orang dengan 78 kematian di 1998.

Menurut Prof Edi yang juga Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, sebetulnya kasus penyakit ini ringan. Hanya saja perlu waspada komplikasi seperti radang otak (meningitis) karena terjadi virulensi virus.

 

Penularannya hampir sama dengan Covid-19, yakni melalui droplet, masuk ke saluran pernapasan, fekal oral, air liur, cairan vesikel dan kontak fisik. Patogenesisnya, yaitu virus masuk dalam saluran pernapasan, diteruskan ke paru-paru, tenggorokan dan menyebar dalam 24 jam.

Lesi untuk flu Singapura paling sering di telapak kaki, tangan dan mulut seperti sariawan. Proses penularannya bergantung pada mekanisme, reseptor, dan daya tahan tubuh. 

Jika anak terindikasi mengalami penyakit ini, sebaiknya diisolasi di rumah setidaknya lima hari, namun bukan berarti tidak boleh berkegiatan sama sekali. Dalam waktu sampai lima hari, tingkat penularan virusnya sudah menurun dan penyakit ini akan sembuh sendiri dengan perawatan yang mendukung daya tahan tubuh.

Komplikasi yang harus diwaspadai karena bahaya adalah menyerang otak, meski sangat jarang dan belum ada laporannya di Indonesia. Orang tua harus waspada saat anak memerlukan perawatan rumah sakit, seperti demam di atas 39 derajat celcius, kejang dan lainnya.

Gejala HFMD meliputi....

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement