Sabtu 24 Feb 2024 06:05 WIB

Cara Mengajari Anak Mengelola Emosi yang Direkomendasikan Psikolog

Anak perlu memiliki keterampilan mengelola emosinya.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda
Seorang ibu sedang memarahi anaknya (ilustrasi). Orang tua kadang kehabisan akal dalam mencari cara untuk memulai pembicaraan tentang kesehatan mental dengan anak atau remaja.
Foto: Freepik
Seorang ibu sedang memarahi anaknya (ilustrasi). Orang tua kadang kehabisan akal dalam mencari cara untuk memulai pembicaraan tentang kesehatan mental dengan anak atau remaja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak-anak serta remaja belum memiliki keterampilan mumpuni dalam mengelola emosi. Mereka kerap kewalahan karenanya, namun sulit atau enggan membicarakan hal itu. Terkadang, orang tua pun mengeluh saat menghadapi anak di tahapan ini.

Banyak orang tua menjadi amat mencemaskan kesehatan mental anak-anak mereka. Di sisi lain, orang tua juga kehabisan akal dalam mencari cara untuk memulai pembicaraan tentang kesehatan mental dengan anak atau remaja.

Baca Juga

Beberapa anak mungkin masih terlalu kecil untuk memahami bagaimana menjelaskan emosi mereka. Anak yang lebih besar juga tidak lebih mudah dijangkau sebab justru malah menarik diri ketika topik tersebut mulai dibicarakan orang tua.

Data dari Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) menunjukkan ada masalah besar terkait kesehatan psikis anak. Disebutkan bahwa satu dari lima anak dan remaja di Inggris yang berusia delapan hingga 25 tahun diprediksi mengidap gangguan mental.

 

Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengajari anak mengelola emosi? Psikolog dan psikoterapis Charlotte Armitage merekomendasikan orang tua meminta anak untuk menulis di buku harian atau mengerjakan buku aktivitas.

"Menulis dapat membantu anak-anak mengatur pikiran mereka dan bisa sangat melegakan, karena menulis dapat membantu memfasilitasi pengolahan emosi mereka dengan cara yang sehat," ujar Armitage, dikutip dari laman GoodtoKnow, Jumat (23/2/2024).

Penggagas gerakan "No Phones at Home" itu juga menjelaskan bahwa menulis melibatkan refleksi pada pikiran dan perasaan, membuat anak mencari tahu bagaimana menyusun pikiran dan perilaku tersebut. Menulis melibatkan koneksi saraf yang kompleks.

Apa yang harus ditulis anak? Orang tua bisa meminta anak menulis apa saja yang dialami atau suasana hati yang dia rasakan. Bisa juga menuliskan hal-hal yang disyukuri dalam hidup atau rencana kegiatan. Itu semua akan membantu anak mengomunikasikan perasaan mereka lewat tulisan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement