Jumat 06 Feb 2026 22:50 WIB

Belajar dari Kasus Anak Bunuh Diri di NTT, Kesehatan Mental Anak di Daerah Sering Terabaikan?

Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat dinilai sangat penting.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
ilustrasi Ibu memeluk anak laki lakinya. Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil dinilai sering kali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan
Foto: Republika/Daan Yahya
ilustrasi Ibu memeluk anak laki lakinya. Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil dinilai sering kali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang anak berinisial YBR (10 tahun) di Nusa Tenggara Timur diduga bunuh diri setelah mengalami tekanan mental karena tak bisa membeli buku dan pena. Guru besar sosiologi Universitas Airlangga Prof Bagong Suyanto, menilai peristiwa ini harus menjadi peringatan bagi masyarakat tentang pentingnya pemantauan kondisi psikologis anak-anak di lingkungan sekitar mereka.

"Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil sering kali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan. Juga kurangnya akses terhadap layanan psikologis membuat anak-anak merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan yang cukup," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (6/2/2026).

Baca Juga

Prof Bagong mengatakan keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran besar dalam mendeteksi tanda-tanda adanya masalah emosional atau psikologis pada anak. "Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan," kata dia.

Sebagai informasi, orang-orang terdekat mengenal YBR sebagai anak yang pendiam dan penurut. Sejak usia sekitar 1 tahun 7 bulan, ia telah tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2x3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, setelah tidak lagi tinggal bersama ibu kandungnya. YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Sementara itu, ayahnya merantau ke Kalimantan lebih dari sepuluh tahun yang lalu dan hingga kini tidak pernah kembali.

Melihat kondisi tersebut, Prof Bagong menyoroti tekanan kemiskinan sebagai faktor besar yang memengaruhi kesehatan psikologis anak-anak. "Kondisi ekonomi yang sulit dapat menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak, yang berimbas pada kesejahteraan mental mereka. Ketika orang tua kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, anak-anak sering kali merasakan dampaknya. Dampak yang muncul baik secara langsung maupun tidak langsung," kata dia.

Prof Bagong berharap pemerintah dapat mengembangkan pendekatan community support system. Pendekatan itu melalui lembaga sosial lokal yang dapat memberikan dukungan psikologis dan emosional kepada anak-anak di daerah terpencil.

"Lembaga sosial lokal harus lebih terlibat dalam memberikan perhatian terhadap kesehatan mental anak. Lembaga harus menciptakan jaringan dukungan yang bisa menjangkau setiap keluarga, terutama yang berada di daerah dengan keterbatasan akses layanan pendidikan," kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Kehidupan adalah anugerah berharga dari Allah SWT. Segera ajak bicara kerabat, teman-teman, ustaz/ustazah, pendeta, atau pemuka agama lainnya untuk menenangkan diri jika Anda memiliki gagasan bunuh diri. Konsultasi kesehatan jiwa bisa diakses di hotline 119 extension 8 yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes juga bisa dihubungi pada 021-500-454. BPJS Kesehatan juga membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement