Jumat 23 Feb 2024 19:13 WIB

Anak Susah Makan? Dokter Gizi Bagikan Cara Jitu Mengatasinya

Responsive feeding dinilai bisa membantu anak makan dengan baik.

Anak susah makan (ilustrasi). Jika anak menunjukkan gejala susah makan selama lebih dari 1 bulan, orang tua perlu khawatir.
Foto: www.freepik.com
Anak susah makan (ilustrasi). Jika anak menunjukkan gejala susah makan selama lebih dari 1 bulan, orang tua perlu khawatir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Apakah anak Anda termasuk yang sulit makan? Dokter gizi medik dr Dyah Arum memaparkan metode pemberian makanan responsif atau responsive feeding sebagai rekomendasi global untuk mengatasi permasalahan anak yang sulit untuk makan.

"Responsive feeding ini adalah satu-satunya cara yang masuk dalam rekomendasi global, karena kita mengikuti cara pikir, pola pikir dari anak dan kita merespons nih keinginan dari anak," katanya dalam diskusi kesehatan yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (23/2/2024).

Baca Juga

Dokter yang memiliki sertifikasi feeding therapy itu mengatakan responsive feeding membantu anak untuk makan dengan baik, adekuat, dan dengan sendirinya dan tanpa paksaan. Responsive feeding, kata dia, dilakukan dengan cara membagi piring makanan, dengan memisahkan makanan yang diketahui disukai oleh anak (safe food) dan makanan yang sedang dicoba untuk diperkenalkan kepada anak (exposure food). Ia memberi contoh dengan asumsi anak menyukai nasi dan ayam.

"Boleh loh, self food-nya, si nasi sama ayamnya dihidangkan, tetapi kita mau mengenalkan belut. Belutnya ditaruh di pojokan, kecil, cuma sedikit saja. Kita nggak nge-pressure anaknya untuk makan," jelasnya.

Praktik tersebut, kata Dyah, mampu menyebabkan anak menjadi tertarik, dan mungkin akan bertanya, dan mencoba untuk memegang dan mencium exposure food selama beberapa saat, dan selanjutnya anak akan mencoba untuk memakannya tanpa paksaan. Dia menyebut, dalam pelaksanaannya, upaya pemberian makan dengan metode ini bisa menyesuaikan dengan usia anak. Jika anak masih balita, pemberian makanan bisa dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit, dan diisi ulang sampai anak merasa kenyang sembari diapresiasi saat anak mampu menghabiskan makanannya.

Dyah menilai upaya pemberian makanan melalui metode responsive feeding dapat membantu mengenalkan anak kepada makanan sehat seperti sayur dan buah tanpa adanya perlawanan. "Kalau kita memaksa anak, membujuk-bujuk anak berlebihan, anak ternyata punya dua mode, dia akan fight, dia akan melawan, atau dia akan flight, dia akan menghindar," ujarnya.

Hal tersebut, kata dia, dapat meningkatkan detak jantung anak, yang juga meningkatkan hormon stresnya sehingga mengurangi nafsu makannya. "Jadi prinsip responsive feeding, kita tidak nge-pressure anaknya. Sediakan porsi yang cukup dulu, bisa di-refill, kemudian perhatikan kalau misalnya anaknya udah menghela napas begitu, coba yuk diangkat dulu, dipeluk dulu, ajak main sebentar, balikin lagi buat makan. Itu akan lebih responsif, lebih mindful dalam mengonsumsi makanannya, dan nanti makannya bisa adekuat," kata Dyah Arum.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement