Selasa 24 Oct 2023 18:36 WIB

Mengapa Kasus Menyakiti Diri Sendiri Terus Bermunculan?

Edukasi lebih luas perlu diberikan agar perilaku self harm ini tidak terus terjadi.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Natalia Endah Hapsari
Perilaku menyakiti diri sendiri atau self harm makin marak terjadi dalam masyarakat/ilustrasi
Foto: Pexels
Perilaku menyakiti diri sendiri atau self harm makin marak terjadi dalam masyarakat/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Seorang psikiater berspesialisasi dalam psikosomatik, kecemasan, dan kasus depresi di RS EMC Alam Sutera, dr Andri memberikan pandangan tentang meningkatnya kasus perilaku menyakiti diri (self-harm), terutama di kalangan anak dan remaja. Dr Andri mengingatkan, edukasi yang lebih luas perlu diberikan agar perilaku ini tidak terus-menerus terjadi.

Dengan pesatnya penggunaan media sosial di Indonesia, informasi kesehatan jiwa menjadi lebih mudah diakses, tapi kesadaran dan pemahaman yang dalam masih harus ditingkatkan.

Baca Juga

“Masalah kesehatan jiwa awareness-nya mulai ada, kesadarannya, tapi secara umum lebih dominan kita membicarakan saja di ruang-ruang publik itu sebagai suatu kondisi yang akhirnya cuma dibicarakan tapi tidak ada solusinya,” kata dosen psikiatri Ukrida itu kepada Republika, Selasa (24/10/2023).

Perlu disadari, hanya berbicara mengenai gejala dan pengalaman seseorang dalam ruang publik tidak cukup. Pentingnya memberikan solusi dan dukungan bagi mereka yang mengalami masalah ini tak boleh diabaikan. Terutama bagi individu dengan masalah kesehatan jiwa seperti depresi, gangguan mood, cemas, dan gangguan kepribadian, bantuan profesional sangat diperlukan.

Dr Andri menyarankan deteksi dini dan akses ke bantuan profesional dapat dilakukan melalui guru bimbingan dan konseling (BP) di sekolah, yang memiliki peran krusial dalam mendeteksi perubahan perilaku pada siswa. Mereka juga dapat menggunakan alat-alat seperti PHQ-9 dan SRQ-20 untuk menilai faktor-faktor terkait.

Hal ini penting mengingat banyak yang masih merasa malu atau enggan untuk mengungkapkan masalah kesehatan jiwa mereka. Dr Andri menggarisbawahi, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, langkah berikutnya adalah mencari bantuan profesional untuk menangani masalah ini secara efektif.

Selain itu, Dr Andri mengingatkan bahwa menjaga gaya hidup yang sehat adalah kunci penting dalam menjaga kesehatan jiwa. Perubahan pola makan yang baik, tidur yang cukup, dan menghindari kecanduan gawai adalah hal-hal yang perlu diperhatikan.

Selain itu, penanganan yang diberikan kepada mereka yang mengalami masalah jiwa haruslah bijak dan sensitif. Nasihat yang terlalu prematur dan kurang mendalam dapat memberikan dampak negatif dan memicu rasa malu. Kedekatan dan kerja sama antara orang tua dan guru sangat dibutuhkan dalam membantu anak-anak dan remaja menghadapi permasalahan kesehatan jiwa mereka.

Dr Andri menegaskan bahwa kita hidup dalam dunia yang terus berubah dan perkembangan teknologi. Dengan pemahaman yang lebih dalam, edukasi yang ditingkatkan, serta dukungan yang memadai, kita dapat menjaga kesehatan jiwa anak-anak dan remaja pada era ini yang sangat berbeda dari zaman sebelumnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement