Rabu 18 Mar 2026 10:26 WIB

Penelitian Sebutkan 41 Persen Pemudik Bisa Alami Cemas dan Depresi

Pulang kampung sebabkan ekspektasi sosial hingga menimbulkan stres.

Sejumlah pemudik kereta api jarak jauh menaikkan barang di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Ahad (23/3/2025). Kondisi stasiun Pasar Senen saat ini terlihat lebih ramai terutama di area tunggu yang dipenuhi pemudik dengan membawa koper dan bungkusan kardus yang siap dibawa pulang ke kampung halaman. Sepekan menjelang Idul Fitri, Sejumlah warga memilih mudik lebih awal untuk menghindari kepadatan penumpang dan kesulitan mendapatkan tiket kereta pada arus mudik 2025. Selain itu pemudik memilih untuk pulang lebih awal agar dapat menghabiskan waktu lebih lama di kampung halaman.
Foto: Republika/Prayogi
Sejumlah pemudik kereta api jarak jauh menaikkan barang di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Ahad (23/3/2025). Kondisi stasiun Pasar Senen saat ini terlihat lebih ramai terutama di area tunggu yang dipenuhi pemudik dengan membawa koper dan bungkusan kardus yang siap dibawa pulang ke kampung halaman. Sepekan menjelang Idul Fitri, Sejumlah warga memilih mudik lebih awal untuk menghindari kepadatan penumpang dan kesulitan mendapatkan tiket kereta pada arus mudik 2025. Selain itu pemudik memilih untuk pulang lebih awal agar dapat menghabiskan waktu lebih lama di kampung halaman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mudik selama ini identik dengan persiapan fisik, mulai dari tiket, kendaraan, hingga oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman. Namun, ada satu hal yang sering terlewat yaitu kesiapan mental.

Menurut Dokter dan Pendiri Health Collaborative Center (HCC) Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, ada penelitian dalam bidang travel medicine yang dirilis pada 2023 oleh World Travel & Tourism Council (WTTC) melalui behavioral travel survey di beberapa negara dengan budaya pulang kampung menunjukkan temuan yang cukup mengejutkan. "Jadi sekitar 41 persen orang dewasa yang melakukan perjalanan pulang kampung mengalami gejala kecemasan (anxiety) dan depresi ringan hingga sedang selama periode perjalanan,” kata Dr Ray, dikutip dari siaran pers, Rabu (18/3/2026).

Baca Juga

Menurut Dr Ray, yang merupakan salah seorang Inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, kondisi ini bukan muncul tanpa sebab. Penelitian tersebut mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memicu peningkatan tekanan mental selama perjalanan, di antaranya adalah stres perjalanan jarak jauh, ketidakpastian waktu tempuh, serta kelelahan fisik akibat perjalanan yang panjang.

Dalam konteks Indonesia, beban tersebut bahkan menjadi lebih kompleks. Fenomena mudik di Indonesia tidak hanya diwarnai oleh perjalanan panjang, tetapi juga kemacetan ekstrem yang bisa berlangsung berjam-jam hingga berhari-hari, perubahan pola tidur, serta ketidakteraturan pola makan. Semua faktor ini berkontribusi pada peningkatan stres biologis dalam tubuh. Namun yang sering kali luput dari perhatian adalah tekanan sosial yang menyertai mudik.

“Bagi banyak orang, pulang ke kampung halaman bukan sekadar bertemu keluarga, tetapi juga menghadapi ekspektasi sosial yang tidak tertulis. Pertanyaan tentang pekerjaan, status pernikahan, hingga pencapaian hidup kerap menjadi sumber tekanan tersendiri,” ujar Dr Ray.

Dr Ray Penelitian tersebut menyoroti bahwa ekspektasi untuk “terlihat berhasil” di hadapan keluarga dan lingkungan sosial menjadi salah satu faktor stres psikologis yang signifikan. Ketika tekanan ini bertemu dengan kelelahan fisik akibat perjalanan, terbentuklah apa yang disebut sebagai stressor akumulatif. Yakni kondisi di mana berbagai tekanan terjadi secara bersamaan dan saling memperkuat.

Dampaknya tidak selalu terlihat secara kasat mata. Banyak pemudik yang akhirnya mengalami perubahan kondisi psikologis, seperti mudah tersinggung, sulit menikmati momen kebersamaan, overthinking berlebihan, bahkan hingga kecenderungan menarik diri dari interaksi sosial. "Alih-alih menjadi momen pemulihan, libur mudik justru dapat berubah menjadi periode kelelahan mental yang tidak disadari," katanya.

Oleh karena itu, Dr Ray menyarankan, persiapan mudik seharusnya tidak berhenti pada aspek logistik semata. Menyiapkan mental menjadi langkah krusial agar perjalanan tetap sehat secara menyeluruh.

Beberapa strategi sederhana yang dapat dilakukan antara lain menurunkan ekspektasi terhadap situasi perjalanan dan interaksi sosial, menerima bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab secara mendalam, menyediakan waktu untuk istirahat mental selama perjalanan, serta menjaga kesadaran diri terhadap kondisi emosi.

Tanpa kesiapan mental, risiko yang muncul cukup jelas. Tubuh mungkin sampai di tujuan, tetapi kondisi psikologis sudah terkuras lebih dulu. "Pada akhirnya, mudik bukan hanya soal pulang secara geografis. Lebih dari itu, mudik adalah perjalanan kembali yang idealnya membawa ketenangan, bukan justru menambah beban," kata Dr Ray.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement