Jumat 18 Aug 2023 23:57 WIB

Guru Besar FK UI Bantah Galon AMDK Penyebab Autis

Penyebab autis itu masih multifaktor seperti faktor genetik dan lingkungan

Air kemasan galon (ilustrasi)
Foto: Istimewa
Air kemasan galon (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Rini Sekartini mengatakan, air minum dalam kemasan (AMDK) galon isi ulang tak memiliki kaitan dengan penyebab autis pada anak-anak. Menurut dia, hingga saat ini belum ada satu pun penelitian yang mengungkap penyebab pasti terjadinya autis.

“Penyebab autis itu masih multifaktor seperti faktor genetik dan lingkungan. Ada juga karena infeksi masa lampau, dan itu bisa terjadi. Tapi, yang pasti air galon isi ulang tidak menjadi penyebab autis. Itu sudah pasti salah,” ujar Rini, Jumat (18/8/2023).

Dia mengatakan, AMDK galon isi ulang justru baik untuk kesehatan karena mengandung mineral yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Dia menjelaskan, jika kemudian hal itu disebut-sebut dapat menyebabkan autis, semestinya sudah banyak anak-anak di Indoensia yang menderita autis karena tak sedikit yang meminum air galon.

“Kalau dikatakan bisa menyebabkan autis, seharusnya sudah banyak anak-anak di Indonesia yang menderita autis karena yang minum air galon kan banyak. Tapi, nyatanya, yang autis bisa dihitung jari,” kata dia. 

Wanita bergelar profesor itu menerangkan, dulu ada penelitian yang mendukung pengaruh zat tembaga logam terhadap penyebab autis. Tapi,  kata dia, penelitian itu tidak konklusif juga bahwa penyebab autis itu karena logam ini. Sebab itu, dia mengatakan, pencarian penyebab autis itu pun tidak lagi menjadi perhatian saat ini.

“Biasanya pada anak autis, kita nggak mencari pasti penyebabnya. Pemeriksaan darah, CT Scan, biasanya tidak kita lakukan. Kita langsung masuk ke intervensi untuk penanganannya,” tutur dia.

Penanganan anak-anak autis, kata dia, dilakukan tergantung gejalanya. Menurut Rini, karena autis merupakan gangguan perilaku, maka penanganannya juga harus dengan memperbaiki perilakunya. Terapinya dilakukan dengan berbagai cara, ada terapi sensor integrasi, ada okupasi, ada terapi wicara, dan terapi perilaku. “Jadi, ada multifaktor untuk terapinya,” jelas dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, yang bisa terjadi pada anak autis itu adalah suka mengalami alergi makanan. Misalnya alergi susu sapi dan alergi makanan laut. “Tapi, itu juga tidak semua anak alergi itu jadi dikatakan menderita autis,” terang Rini.

Autis, kata dia, bisa dibagi menjadi autis ringan, sedang, dan berat. Untuk mendeteksinya biasanya ditentukan menggunakan perangkat screening berupa kuesioner yang bernama M-CHAT-R. Anak dengan gejala ada kontak matanya sebentar itu biasanya masuk autis ringan. Jika gejalanya tidak ada kontak mata tapi anaknya tidak cuek, itu masuk autis sedang. 

“Tapi, yang sama sekali cuek dan  nggak ada kontak mata biasanya kita masukkan kategori autis berat,” tutur dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement