Selasa 11 Jul 2023 00:47 WIB

Mengapa Orang Gemuk Sering Merasa Lapar Meski Sudah Makan?

Ketidakseimbangan antara kalori yang masuk dan keluar dapat picu obesitas.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda
Pria mengalami obesitas (ilustrasi). Makanan manis dan tinggi lemak bisa picu obesitas jika orang kurang melakukan aktivitas fisik untuk membakar kalori yang masuk.
Foto: www.freepik.com
Pria mengalami obesitas (ilustrasi). Makanan manis dan tinggi lemak bisa picu obesitas jika orang kurang melakukan aktivitas fisik untuk membakar kalori yang masuk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyebab obesitas sebenarnya sederhana, yaitu adanya ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran energi. Pada orang normal, pemasukan dan pengeluaran bisa dijaga dengan seimbang.

"Kalau pasien itu makannya banyak, biasanya aktivitas fisiknya tinggi. Kalau itu seimbang, tidak akan terjadi kegemukan," jelas dokter spesialis penyakit dalam sub endokrin, EM Yunir, dalam media group interview mengenai "Serba Serbi Obesitas", Senin (10/7/2023).

Baca Juga

Pasalnya, di zaman sekarang terjadi ketidakseimbangan pemasukan dan pengeluaran karbohidrat. Apalagi, sekarang sangat mudah membeli makanan dan semua jenis makanan yang ada bisa dibeli secara online.

"Yang mana kita tahu zaman sekarang itu makanan enak tuh yang manis-manis dan mengandung lemak tinggi, sehingga inputnya akan menjadi tinggi, sedangkan pada output-nya kurang, terjadi ketidakseimbangan kalori lebih banyak yang tersimpan, tidak terbuang," ujarnya.

Dampaknya, dalam periode jangka panjang, kelebihan input makanan atau kalori menyebabkan penumpukan lemak dalam tubuh.

"Kelebihan makan dari kebutuhan kita sebesar 500 kalori itu dalam satu bulan bisa menumpuk sel-sel lemak sebanyak dua kilogram. Ini sangat perlu diperhatikan," ungkapnya.

Oleh karena itu, menjaga asupan dengan pengeluaran harus seimbang. Saat seseorang mulai mengalami kegemukan, sel-sel lemak yang menumpuk akan mengeluarkan zat-zat racun yang menyebabkan inflamasi atau peradangan yang meluas.

Hal ini memicu terjadinya insulin tidak maksimal, hormon leptin mengalami penurunan fungsi, ada keracunan lemak dan kolesterol tinggi. Selain itu, juga memicu risiko diabetes menjadi tinggi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement