Rabu 04 Mar 2026 08:39 WIB

Ramadhan Momen Tepat Kurangi Gula, Garam, dan Lemak

Sebagian besar masyarakat dinilai masih sangat bergantung pada gula.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Warga memilih aneka takjil untuk berbuka puasa (ilustrasi). Bulan suci Ramadhan dinilai menjadi momentum terbaik bagi bagi umat Islam untuk menerapkan pola hidup lebih sehat.
Foto: Republika/Prayogi
Warga memilih aneka takjil untuk berbuka puasa (ilustrasi). Bulan suci Ramadhan dinilai menjadi momentum terbaik bagi bagi umat Islam untuk menerapkan pola hidup lebih sehat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan suci Ramadhan dinilai menjadi momentum terbaik bagi bagi umat Islam untuk menerapkan pola hidup lebih sehat. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengajak masyarakat memanfaatkan Ramadhan untuk mengurangi konsumsi gula, garam dan lemak.

"Saya merasa Ramadhan ini waktu yang tepat buat kita untuk mulai mengurangi kadar gula, garam. Karena mengubah kebiasaan itu tidak mudah, dan mungkin kalau di hari biasa akan terasa sulit," kata Nadia dalam diskusi media memperingati Hari Diabetes Sedunia di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga

Nadia mengatakan sebagian besar masyarakat masih sangat bergantung pada gula. Bahkan ketika mengonsumsi minuman dengan label "less sugar", sering kali menambahkan gula lagi agar rasanya sesuai selera. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan hingga obesitas.

photo
Direktur penyakit tidak menular Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, Head of Strategic Marketing Nutrifood Susana, dan Direktur SEAFAST Center IPB Puspo Edi dalam diskusi media di Jakarta, Selasa (3/3/2026). - (Dok. Republika/Gumanti Awaliyah)

 

"Kebanyakan mereka itu nggak sadar bahwa gula yang dikonsumsinya sudah sangat tinggi. Ini kalau tidak diubah bisa picu obesitas," kata Nadia.

Hal serupa terjadi pada konsumsi garam dan lemak. Menurut Nadia, banyak orang yang kerap menambahkan garam sendiri saat makan di restoran karena merasa makanan kurang gurih. Padahal, kebiasaan menambahkan garam di meja makan sebenarnya tidak baik untuk kesehatan.

"Kalau kita makan di restoran atau rumah makan, banyak loh yang suka nambahin garem lagi karena kurang gurih. Padahal chef-nya udah menakar agar garamnya tidak terlalu tinggi, ini kan lama-lama tidak baik buat kesehatan," kata Nadia.

photo
Konsumsi gula. (ilustrasi) - (www.freepik.com)

 

Nadia menilai Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk mulai mengurangi asupan gula, garam, dan lemak secara bertahap. Misalnya, jika biasanya mengonsumsi satu sendok teh gula dalam teh, selama Ramadhan bisa dikurangí menjadi seperempat sendok.

Setelah sebulan, lidah akan terbiasa dengan rasa yang lebih ringan dan justru merasa terlalu manis jika kembali ke takaran awal. "Puasa itu bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga melatih diri. Mumpung lagi Ramadan, kita pakai kesempatan ini untuk mengurangi gula, garam, dan lemak yang jahat seperti gorengan gitu ya," kata dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement