Kamis 22 Jun 2023 20:54 WIB

Sedih Berlarut-larut karena tak Lulus UTBK, Wajarkah? Ini Kata Psikolog

Video kesedihan seorang remaja ketika tak lulus UTBK viral di Tiktok.

Rep: Mgrol146/ Red: Qommarria Rostanti
Seseorang sedih ketika tak lulus UTBK SNBT (ilustrasi).
Foto: Mgrol101
Seseorang sedih ketika tak lulus UTBK SNBT (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lulus Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) menjadi impian hampir setiap anak yang telah menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA. Sayangnya, tak semua berhasil.

Rasa sedih dan kecewa mungkin menjalar di hati para siswa yang gagal SNBT. Viral di Tiktok, pengguna dengan akun @yoga.mard mengunggah video kesedihan dan kekecewaannya karena tak lulus UTBK.

Baca Juga

Dalam video berdurasi sekitar satu menit itu, dia melampiaskan emosnya dengan menangis hingga melempar buku yang telah dipelajarinya selama enam bulan terakhir. Dia merasa, kegigihan belajar yang dia lakukan terasa percuma karena tidak lulus SNBT. 

"6 bulan belajar extra sampai jam 2 atau jam 3 buat lolos SNBT, tapi Allah berkehendak lain," tulisnya.

Video tersebut memancing komentar warganet. Ada yang berempati kepada si pemilik akun, namun ada juga yang //julid// lantaran dinilai berlebihan. Apakah normal bereaksi seperti itu ketika mengalami kegagalan?

Psikolog klinis Nadya Pramesrani mengatakan, setiap orang disarankan dapat merespons setiap kegagalan dengan baik, misalnya dengan cara menenangkan diri, menyelesaikan emosi yang tidak nyaman dengan tenang, dan mengevaluasi diri terkait mengapa ketidaklulusan itu bisa terjadi. "Setelah hati merasa lebih tenang, kamu siapkan alternatif solusi yang bisa diambil dan jangan lupa //sharing// dengan orang tua mengenai solusi tersebut," kata dia.

Menurut Nadya, peran orang tua di sini sangat penting dalam menjaga kestabilan emosi anak. Walaupun sebenarnya orang tua juga menyimpan harapan dan ekspetasi terhadap anaknya, dan wajar sekali jika orang tua juga merasakan kekecewaan dan kesedihan itu. Namun menurut dia, jika orang tua tetap membebani anak juga bukan hal yang bijak. 

Dia menyebut, respons pertama orang tua ke anak ketika gagal bisa dengan cara bantu anak dalam meregulasi emosinya. Secara verbal, berikan validasi pada anak bahwa iya tidak enak saat gagal. "Ketika anak sudah mengerti akan kegagalan tersebut dan emosinya sudah stabil, artinya anak sudah siap diajak bicara atau berdiskusi bersama juga mencari solusi baru untuk langkah selanjutnya," ujarnya.

Nadya mengatakan, marah dan kesal itu merupakan hal wajar ketika menghadapi kegagalan, tapi alangkah baiknya diluapkan dengan cara lebih tenang. Pasalnya di setiap kegagalan pasti ada keberhasilan yang tersimpan. Jangan takut gagal jika ingin sukses karena kegagalan adalah awal dari keberhasilan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement