Selasa 20 Jun 2023 17:29 WIB

Tiket Coldplay di Indonesia Lebih Mahal Dibandingkan Singapura, APMI Ungkap Alasannya

APMI buka suara mengenai mahalnya tiket konser Coldplay di Indonesia.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Qommarria Rostanti
Band Coldplay. APMI buka suara mengenai mahalnya tiket konser Coldplay di Indonesia yang lebih mahal dibandingkan di Indonesia.
Foto: EPA
Band Coldplay. APMI buka suara mengenai mahalnya tiket konser Coldplay di Indonesia yang lebih mahal dibandingkan di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Promotor konser Coldplay di Singapura, Live Nation, mengumumkan band asal Inggris, Coldplay, menambah pertunjukannya menjadi enam hari. Konser Coldplay di negara tersebut akan digelar di Singapore National Stadium pada Januari 2024.

Harga tiket konser Coldplay di Singapura berkisar antara 68 dolar Singapura (sekitar Rp 760 ribu) hingga 398 dolar Singapura (sekitar Rp 4,4 juta). Warganet Indonesia kemudian membandingkan dengan harga tiket konser Coldplay di Indonesia, yang dijual mulai Rp 800 ribu (restricted view) hingga Rp 5,7 juta (festival).

Baca Juga

Warganet lantas bertanya-tanya tentang kenapa Indonesia tidak bisa sekompetitif itu? Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) membagikan alasan harga tiket konser yang mahal.

“Bisnis itu harus kita hitung cost-nya, elemen cost itu apa saja? Bayar artisnya, sewa venue-nya, terus juga semua pembiayaan sifatnya infrastruktur, seperti support system-nya, ticketing manajement system-nya, dan yang paling krusial itu bicara tax, perizinan, dan lain-lain,” kata Ketua APMI Dino Hamid kepada Republika.co.id, Selasa (20/6/2023).

APMI menilai perbedaan paling dominan terkait biaya prasarana, misalnya masalah perizinan. Di Indonesia, izin sifatnya masih sangat variabel, seperti pajak di mana ada PPh 23, PPh 26, dan PPN, yang mungkin sudah disederhanakan di luar negeri. Selain itu, negara lain mungkin tidak harus mengenakan biaya kedatangan artisnya, sementara Indonesia mungkin ada biaya untuk visa kerja per orang.

“Jadi, banyak yang di luar sana tidak ada, tapi di kita ada. Jadi itu harus membuat beban cost-nya lebih tinggi dibanding mengadakan event di luar gitu. Setelah beban cost-nya terkumpul, misalnya Rp 10, ya berarti harga tiketnya juga harus bisa mengembalikan Rp 10 itu, plus profitnya,” ujar Dino.

Bagaimana dengan bantuan dari pemerintah? APMI selama ini memperjuangkan dukungan pemerintah, baik itu dari sisi perpajakan, pelaksanaan di lapangan tentang izin, serta kemudahan dalam hal mendapatkan dukungan sponsor. Di Singapura kenapa bisa besar, mereka memang mempunyai anggaran sendiri dari badan pariwisata negara untuk mendukung kegiatan yang bisa menghasilkan/mendatangkan wisatawan.

“Jadi, kalau misalnya memang pemerintah kita ini melihat potensi atraksi atau event, konser itu bisa mendatangkan tourism, bisa membuat perekonomian berjalan, saya rasa Indonesia punya potensi sangat luar biasa,” kata Dino.

Meskipun sensitifitas terhadap potensi atraksi belum terlalu kuat, Dino mengapresiasi kepedulian Presiden Joko Widodo terhadap industri kreatif. “Lumayan, sudah ada kemajuan dibanding sebelumnya. Tapi, masih harus di-support juga di infrastruktur strakeholder terkait,” ujar Dino.

APMI menilai fokus pemerintah terhadap industri pertunjukan konser dan musik ini belum terlalu maksimal, yang berbeda dengan Singapura. “Mereka kalau bicara konser itu bisa deal dengan musisinya untuk show exclusive di Singapura, yang mana itu investasinya jauh lebih besar, tapi membuat negara-negara sekitar akhirnya datang semua ke Singapura,” kata dia.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement