Jumat 26 May 2023 18:58 WIB

Awal Cerita Animasi The Little Mermaid Sempat Membuat Walt Disney Bingung

Tahun 1940 merupakan 'kuburan' bagi banyak proyek Disney.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti
Karakter The Litte Mermaid. Karakter The Little Mermaid sempat membuat Walt Disney bingung.
Foto: Disney.
Karakter The Litte Mermaid. Karakter The Little Mermaid sempat membuat Walt Disney bingung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu pujian paling konsisten yang diberikan kepada Walt Disney adalah pendongeng ulung. Meskipun demikian, Hans Christian Andersen dengan cerita The Little Mermaid yang dibuatnya justru mampu membuat Walt bingung.

Sebagai seorang animator, sutradara, dan yang terpenting sebagai produser, Walt membuat atau mengadaptasi beberapa kisah budaya Barat yang paling dicintai untuk dijadikan film bioskop. Hasilnya sering dianggap sebagai versi definitif dari "benang" apa pun yang dia ambil.

Baca Juga

Tetapi untuk semua bakatnya di bidang itu, ada cerita yang karena satu dan lain hal menentang upaya Walt. Tahun 1940-an adalah "kuburan" bagi banyak proyek Disney yang dibatalkan atau hancur. Itu adalah dekade di mana Walt jatuh dari puncak kesuksesan ke lubang kekecewaan, ketidakpastian, dan ketidakberdayaan yang panjang.

Dilansir laman Collider, Jumat (26/5/2023), sebelum tahun 1940, keuntungan dari Snow White and the Seven Dwarfs membuat Walt membangun studio baru dan merebut hak atas banyak proyek. Sayangnya kinerja yang buruk dari film-film berikutnya, menghalangi proyek-proyek itu untuk dilanjutkan. Di antara judul-judul yang hilang selama tahun-tahun sulit ini adalah Chanticleer, Hiawatha, The Gremlins karya Roald Dahl, kolaborasi dengan Salvador Dali dan Aldous Huxley, serta kelanjutan dari Fantasia.

 

The Life of Hans Christian Andersen adalah salah satu judul yang dimainkan saat itu. Disney telah mencoba-coba karya penulis Denmark itu dengan adaptasi Silly Symphony dari The Ugly Duckling, tetapi ini akan menjadi produksi berdurasi panjang yang ambisius, persilangan live-action dan animasi bertahun-tahun sebelum The Song of the South.

Film ini dimaksudkan sebagai biografi semi fiksi, diselingi dengan adaptasi animasi dari dongeng Andersen. Di antara kisah-kisah yang dijadwalkan untuk dimasukkan adalah The Steadfast Tin Soldier, The Little Fir Tree, The Snow Queen, The Nightingale, dan The Little Mermaid. Yang masih ada hingga hari ini di arsip Disney; The Steadfast Tin Soldier dikembangkan oleh penulis cerita Bianca Majolie, The Little Fir Tree oleh penulis cerita Bill Peet, dan The Little Mermaid oleh ilustrator terkenal Denmark Kay Nielsen.

Hans Christian Andersen mungkin telah membuat Walt bingung, tetapi seniman dan pembuat film Disney yang berhasil selama puluhan tahun itu telah mengambil tantangan Walt. Tiga dari cerita yang telah ditetapkan Walt untuk filmnya, sejak saat itu berhasil masuk ke dalam gambar-gambar Disney.

The Steadfast Tin Soldier adalah subjek untuk rangkaian "Piano Concerto No. 2" dari Fantasia 2000, dengan karya seni asli Bianca Majolie digunakan sebagai inspirasi awal. Frozen tahun 2013 terinspirasi dari The Snow Queen, meskipun sedikit mirip dengan kisah aslinya (dan menawarkan kelebihan yang meragukan dalam dirinya sendiri).

Tentu saja, ada The Little Mermaid tahun 1989, masih bisa dikenali sebagai kisah yang diadaptasi dari kisah milik Andersen, tetapi ini merupakan kisah yang sudah diadaptasi Disney. Sutradara Ron Clements dan John Musker yang tidak mengetahui tentang proyek Andersen yang gagal pada 1940-an, dan merasa terkejut, karena cerita itu belum pernah diadaptasi oleh Disney sebelumnya ketika mereka meluncurkannya pada 1987. Beberapa bulan setelah produksi, mereka menyadari karya sebelumnya dan berkonsultasi untuk film mereka.

Karya seni Kay Nielsen digunakan dalam pengembangan urutan adegan. Transkrip pertemuan cerita Walt juga ditinjau. Clements dan Musker menemukan bahwa naluri mereka selaras dengan naluri Walt, di antaranya tentang gagasan seorang gadis misterius dengan lagu dalam ingatan sang pangeran dan menghapus motivasi ganda putri duyung untuk jiwa yang abadi.

Sementara itu, dongeng Andersen berakhir dengan kompromi yang pahit (putri duyung kecil kehilangan pangerannya, tetapi memenangkan kesempatan untuk mendapatkan jiwa abadi sebagai putri udara). Walt mengakhiri cerita dengan putri duyung yang larut menjadi buih laut. Clements dan Musker memilih akhir yang bahagia, tidak mengambil isyarat dari Walt baik dalam hal itu atau detail kesepakatannya. Tapi film mereka berhasil sampai ke layar lebar, dan Walt tidak.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement