Senin 27 Feb 2023 03:22 WIB

Jatuh Bangun Bisnis Zaskia Adya Mecca Diterpa Pandemi

Saat pandemi, terjadi perubahan ketika konsumen lebih memilih belanja daring.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Natalia Endah Hapsari
Zaskia Adya Mecca berusaha terus adaptif dengan situasi dan kondisi terkini demi mempertahankan bisnisnya.
Foto: Desy Susilawati/Republika
Zaskia Adya Mecca berusaha terus adaptif dengan situasi dan kondisi terkini demi mempertahankan bisnisnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Saat pandemi tak sedikit usaha yang merugi hingga bangkrut. Artis Zaskia Adya Mecca mengalami sendiri hal tersebut ketika pandemi Covid 19 terjadi.

Saat pandemi, terjadi perubahan ketika konsumen lebih memilih belanja daring. Bahkan Zaskia yang awalnya memiliki lebih dari 500 toko fisik akhirnya harus tutup. Mereka pun harus beradaptasi dengan mulai berjualan secara daring. "Tidak sempat waktu untuk ngomongin mau berbuat apa, tapi kita melihat trennya ke mana, orang mau beli baju harus ke mana," ungkapnya.

Baca Juga

Awal pandemi, Zaskia tidak terlalu fokus menjual barang secara daring melalui lokapasar. Karena saat itu, penjualan lewat lokapasar atau marketplace hanya 10 persen.

Namun saat pandemi terus berlangsung, akhirnya mau tidak mau, dia mulai fokus berjualan secara daring. Karyawan yang tadinya sudah tutup mata dengan yang namanya lokapasar lantaran sudah nyaman dengan toko fisik, harus belajar berjualan secara daring. Karyawan dilatih lagi dan mempelajari marketplace, foto produk secara ulang serta memperbaiki website.

"Buru-buru kita pelajari dengan cepat, dalam waktu satu bulan, kita yang tadinya buta akan marketplace, pembayaran dengan online, kita pelajari dengan cepat, akhirnya kita bisa mengikuti ombak dan selamat," tambahnya.

Ternyata setelah mengikuti tren itu, penjualan justru bagus, langsung berubah haluan semua. Namun saat ini trennya berubah lagi sehingga lagi-lagi harus adaptif. ''Karena ombaknya cepat, kemarin offline, lalu pandemi online. Sekarang orang sudah mulai ke store dan mal lagi. Tadinya kita berharap 90 persen dari online, kita mulai pecah lagi, sekarang ada divisi offline lagi. Jadi ya kita harus benar-benar gampang beradaptasi," ujarnya.

Saat pandemi penjualan secara daring mencapai 90 persen, namun saat ini turun jadi 80 persen. "Memang kita belum terlalu banyak, karena kita baru buka offline (toko) awal tahun ini," tambahnya.

Menurut Zaskia, ketika menghadapi 'ombak' yang besar, pengusaha harus bisa menangkap ombak itu. "Karena pilihannya cuma dua, kita bisa berseluncur bareng dengan ombak tersebut, atau tergulung," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement