Senin 21 Oct 2019 09:35 WIB

Psikolog: Anak Usia SD Belum Membutuhkan Gawai

Anak usia SD, menurut psikolog, perlu bermain konkret, bukan main gim di gawai.

Rep: M Riza Wahyu Pratama/ Red: Reiny Dwinanda
Anak dan ponsel pintar
Foto: VOA
Anak dan ponsel pintar

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Rose Mini Agoes Salim menyatakan, anak usia sekolah dasar (SD) sebenarnya belum membutuhkan gawai. Oleh karenanya, orang tua diimbau tidak memberikan gawai kepada anak pada usia yang terlalu dini.

"Masa SD sebenarnya merupakan waktu terbaik pertumbuhan kognitif anak. Oleh karena itu, anak membutukan aktivitas riil yang dilakukan secara konkret dan bersifat operasional. Main bola ya main bola beneran bukan main bola lewat gim," kata perempuan yang kerab disapa Romi tersebut, Senin (21/10).

Baca Juga

Romi berpandangan, ketika anak beranjak SMP (Sekolah Menengah Pertama), maka mereka sudah bisa diberikan gawai. Itu pun dengan catatan atas pengawasan orang tua.

"SMP boleh, tapi harus ada batasannya," ujar dia.

Romi menjelaskan, gawai pada dasarnya memiliki pengaruh buruk kepada anak. Menurutnya, pengaruh buruk tersebut berkaitan dengan dorongan untuk senantiasa menggunakan gawai.

"Karena gawai memberikan kepuasan tersendiri. Akhirnya gawai merusak kemampuan anak dalam berpikir. Otaknya akan memerintahkan untuk mengulang kembali sehingga menjadi habit," kata dia.

Pernyataan Romi tersebut dikeluarkan untuk menyikapi munculnya kasus anak kecanduan gawai. Panti Rehabilitasi Mental Al Fajar Berseri di Kabupaten Bekasi, Jawa Baart, setidaknya telah membina tiga orang anak kecanduan gawai selama tiga tahun terakhir.

Sebelum maraknya gawai, Al Fajar Berseri juga pernah membina anak kecanduan play station. Ketua Panti Al Fajar Berseri, Marsan Susanto, mengatakan bahwa anak usia belasan tahun yang dibinanya mengalami kesulitan berkomunikasi.

"Ya kalau diajak ngomong udah nggak nyambung," kata Marsan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement