Kamis 25 Jul 2019 09:36 WIB

Psikolog Ungkap Bersedih itu Manusiawi

Mengeluarkan emosi sedih atau marah bukan yang hal selalu buruk.

Rep: MGROL Nurul/ Red: Indira Rezkisari
Psikolog keluarga, Retno Dewanti Purba.
Psikolog keluarga, Retno Dewanti Purba.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perempuan seringkali memendam emosi negatif yang dirasakannya. Inginnya selalu terlihat bahagia dan baik-baik saja. Padahal, perempuan kuat itu sosok yang bisa mengenali emosi dan menempatkannya dengan baik.

Hal ini dialami pula oleh penulis Marcella FP. Ia pun menuangkannya dalam buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.

Baca Juga

“Dulu aku pribadi yang tertutup. Gengsi banget buat sedih. Kayak berusaha ketuhan-tuhanan yang harus benar-benar bisa sabar, harus sempurna. Kalau tidak suka sama orang, dipendam. Sampai akhirnya mengalami juga quarter life crisis,” ujarnya.

Namun, ia buru-buru menyadari kekeliruannya. Penulis yang baru menerbitkan buku Kamu Terlalu Banyak Bercanda ini menyebut, justru bersamaan dengan quarter life crisis itu ia mulai belajar berdamai dengan diri sendiri.

 

“Pas 25 tahun itu mulai merasa oh sedih itu manusiawi. Sedih itu harus diterima. Itu lah yang aku terjemahkan dalam buku,” katanya.

Buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini berkisah tentang tokoh bernama Awan yang menginjak usia hampir 27 tahun dan terlambat menikah. Ia takut ketika menjadi ibu dan mulai beranjak tua, ia lupa rasanya menjadi seorang anak. Awan takut akan menjadi orang yang dirinya benci di masa depan.

Psikolog Keluarga, Retno Dewanti Purba menyebut, tak hanya perempuan, semua orang memang harus bisa menghadapi masalah. Namun, ketika merasa kuat dan terus bisa menyelesaikan masalah, bukan berarti orang tak boleh menyalurkan emosi negatifnya, seperti sedih dan marah.

“Setiap orang punya masalah. Orang kan dewasa karena sudah menghadapi berbagai masalah. Setiap orang pun punya strategi untuk menyelesaikan masalah. Strateginya pun harus beragam. Jangan takut untuk menyelesaikan masalah dengan berkonflik. Berantem dulu, nangis-nangis dulu. Misal sama mertua pun juga begitu. Tapi, harus diingat. Bukan soal marah-marahnya tapi bagaimana bisa menyampaikan apa yang kita rasakan. Jangan apa-apa menyalahkan diri sendiri. Coba lihat perspektif lain,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement