Selasa 11 Apr 2017 09:55 WIB

Ini Tantangan Orang Tua dengan Anak Alergi

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari
Alergi
Foto: The Blue Diamond Gallery
Alergi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak dengan alergi akan menjadi tantangan sendiri baik untuk orangtua maupun anak yang alergi tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani S.Psi., M.Si., Psi.

Tantangan pertama yang dihadapi orangtua dalam jangka pendek adalah masalah komunikasi. Misalnya anak alergi protein susu sapi diundang ke ulang tahun temannya. Ada kemungkinan anak dapat makanan dan minuman mengandung susu sapi misalnya yogurt atau cupcake. Orangtua bertanggung jawab menyampaikan ke pengundang bagaimana anaknya supaya tidak mengonsumsi makanan yang mengandung susu sapi. Ini tantangan buat orangtua.

Selain itu, dalam jangka pendek juga berkaitan dengan emosi. Orangtua menjadi cemas, merasa gagal, dan lainnya. Bukan hanya itu masalah pengobatan dan biaya pun kerap jadi masalah. Di sini peran orangtua agar anak tetap ceria meskipun alergi sangat penting.

Dalam jangka menengah, orangtua sering dianggap berlebihan. Karena setiap ulang tahun teman anak, orangtua menjadi berlebihan. Tanya menu makanan apa saja. Padahal itu memang tanggung jawab orangtua.

Bunda dan anak alergi mengalami kesulitan karena tidak dipahami orang lain. Juga oleh keluarga sendiri. Misalnya ibu ingin mengubah cara hidup yang doyan jajan. Ibu memilih mau masak sendiri. Namun ayah menolaknya. Sehingga ibu merasa kurang dipahami. Selain itu, orangtua akan kesulitan memilih asisten rumah tangga.

Sementara dalam jangka panjang, jika alergi sampai dewasa, maka akan membuat oran tua sering takut, cemas, tidak percaya sama orang lain. Orangtua akan berpikir orang ini mengerti tidak kondisi anak saya. Orangtua juga akan memiliki low emotional well-being atau kesejahteraan emosional yang lebih rendah.

Lalu apa tantangan yang dihadapi anak? Menurutnya anak alergi  akan stres memilih makanan. Misalnya ada camilan ditawari tetangga. Anak jadi sering bertengkar dengan orangtua karena masalah makanan. Anak juga sering merasa khawatir dalam bergaul khususnya saat bertukar bekal. Anak juga sering merasa dibatasi. Sehingga memiliki kekhawatiran lain, nanti teman akan berpikir saya apa ya.

Kalau terus terjadi dalam jangka pendek maka akan berlanjut ke tantangan jangka menengah dimana anak cenderung jadi waspada, tingkat kecemasannya meningkat. Anak cenderung kurang fleksibel. Anak juga cederung memilih makanan yang itu-itu saja, bukan hanya dalam hal makanan tapi juga semua aspek kehidupan. Misalnya memilih teman, anak juga akan menghindari pergaulan karena dia merasa aneh. Karena ketika dikasih makanan harus menolak.

Dalam jangka panjang kepribadian anak akan terpengaruh. Anak akan cemas, lebih rentan depresi, dan menjadi anak yang kaku. Anak juga akan dianggap aneh, sehingga teman menjauhi bahkan ia sering mendapatkan bullying.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement