Ahad 06 Mar 2016 19:00 WIB

Dewa Budjana Sebut Ireng Maulana yang Pertama Memberinya Jalan Bermusik

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Andi Nur Aminah
Dewa Budjana
Foto: VOA
Dewa Budjana

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Gitaris grup band Gigi, Dewa Budjana, memiliki kenangan tersendiri dengan musisi senior Jazz, Ireng Maulana. Menurut Budjana, Ireng Maulanalah yang pertama kali menerimanya untuk bisa mencari penghidupan lewat musik di Jakarta.

Budjana mengenang, pada 1985, saat dia pertama kali pindah ke Jakarta dari Surabaya, lewat Ireng Maulana Associates, Ireng Maulana menawarkan pekerjaan kepadanya untuk bermain musik di hotel-hotel dan cafe-cafe di Jakarta. "Saya tinggal nunggu dikabarin main. Kalau tidak ada Om Ireng, mungkin (saya) tidak akan main di club-club saat itu. Waktu itu, hidup saya dari situ," Budjana saat ditemui di Rumah Duka Heaven, RS Dharmais, Slipi, Jakarta Barat, Ahad (15/3).

Bahkan, menurut Budjana, saat mengontak dirinya, Ireng tidak pernah menyuruh perwakilan dari timnya, melainkan secara langsung. Tidak hanya itu, Budjana menilai, Ireng memiliki begitu banyak koneksi dan teman. 

Ireng Maulana, di mata Budjana merupakan sosok teman diskusi yang sangat menyenangkan. Budjana pun sempat kaget dan tidak percaya saat pertama kali mendengar kabar meninggalnya salah satu tokoh pemrakarsa event Jazz Festival, Jak Jazz, tersebut. 

Budjana juga mengaku terkesan dengan kesabaran Ireng. Sepanjang perkenalannya, Budjana tidak pernah melihat musisi yang meninggal dunia pada usia 72 tahun itu marah. "Dia adalah sosok yang luar biasa, temannya banyak, orangnya baik banget, dan tidak pernah marah. Sama semua teman-teman saya di Gigi juga tidak pernah lupa, kalau ketemu selalu bertanya kabar," tutur gitaris yang juga sempat mengeluarkan album kolaborasi dengan Tohpati dan Balawan tersebut. 

Tidak hanya itu, Budjana mengungkapkan cukup terkesan dengan semangat dan perjuangan yang ditunjukkan Ireng Maulana. Terutama saat menggelar event Jak Jazz, salah satu event Jazz festival ternama di Indonesia pada dekade 80-an hingga awal 2000-an tersebut, jauh sebelumnya digelar Java Jazz. "Dan sampai-sampai terakhir (Jak Jazz), kurang ada penontonnya, dia tetap berusaha, sampai sempat sakit-sakit," katanya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement