REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berjalan ke kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, kurang lengkap rasanya jika tak singgah menikmati Sate Afrika yang disajikan dengan pisang goreng. "Menikmati Sate Afrika harus dengan pisang atau roti, karena itu merupakan kebudayaan dari tempat asal satai ini," ujar pemilik Sate Afrika, H Ismail Coulibaly, di Jakarta, Rabu (26/8).
Ismail membawa satai tersebut dari negara asalnya, yakni Mali. Di Afrika, satai dinikmati dengan makanan pokok penduduk setempat yakni pisang atau roti. "Saya tidak mau memisahkan keduanya karena itu kebudayaan makan di Afrika. Kalau enggak ada pisang atau roti, bukan satai Afrika namanya," tambah dia.
Uniknya, Sate Afrika disajikan tanpa tusuk. Pengunjung akan merasakan sensasi berbeda saat menggigit daging domba empuk bersama dengan pisang goreng. Daging yang digunakan berasal dari daging domba betina yang berumur satu hingga dua tahun. Warung Sate Afrika Tanah Abang buka dari jam 14.00 hingga 15.00 WIB.
Selain makanan istimewa, di Warung Sate Afrika ini juga menyediakan banyak jus istimewa. Salah satunya jus penurun kolestrol. Setiap harinya, warung tersebut dipenuhi pengunjung. Bahkan, pihaknya memperluas jaringan Sate Afrika dengan membuka cabang di Yogyakarta.
Warung Sate Afrika di Yogyakarta merupakan cabang dari di Tanah Abang Jakarta. Rasa satai tetap dipertahankan sesuai dengan aslinya.
"Kami kerja sama dengan Pak Anas Syahrul Alimi untuk membuka Sate Afrika Yogyakarta. Pak Anas tidak mau meninggalkan ciri khas sate Afrika yang disajikan dengan pisang goreng dan sambal, juga rasanya. Makanya saya di Yogyakarta selama satu bulan untuk mengajarkan resep sampai cara memasaknya sama koki di warung Sate Afrika Yogyakarta," kata Ismail.
Kendati masakan luar negeri, Warung Sate Afrika Yogyakarta tidak menanggalkan identitas kebudayaan Jawa. Warung tersebut terletak di Jalan Raya Tajem, Stan Maguwoharjo Sleman, Yogyakarta. "Sate Afrika yang asli hanya ada dua di Tanah Air yakni di Tanah Abang dan Yogyakarta," tukas dia.