Jumat 07 Aug 2015 13:47 WIB

Lotek Kalipah Apo, Bertahan Hingga Tiga Generasi

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari
Lydia Jo, generasi ketiga pemilik Lotek Kalipah Apo Bandung.
Foto: Republika/Desy Susilawati
Lydia Jo, generasi ketiga pemilik Lotek Kalipah Apo Bandung.

REPUBLIKA.CO.ID, Di Jalan Kalipah Apo, Bandung, terdapat satu rumah makan dengan papan nama berwarna kuning. Namanya seperti nama jalannya, Lotek Kalipah Apo 42. Nama rumah makan ini memang diambil berdasarkan nama jalan dan nomor rumah sang pemilik, Mariana Latif.

Ia mendirikan lotek ini bersama anak-anaknya. Awalnya, tahun 1953, Mariana nekat berjualan lotek demi membiayai hidup dirinya dan keenam anaknya. Karena semenjak suaminya meninggal, ia harus menjadi tulang punggung keluarga.

Beruntung, anak sulungnya, Foula Suryadi yang kala itu berusia 16 tahun mau membantu ibundanya berjualan. Foula setiap hari menjaga warung kecil ibundanya yang terletak di depan rumah yang mereka tempati. 

Rumah itu, bukanlah milik keluarga Foula, namun milik orang lain. Namun seiring berjalannya waktu akhirnya mereka memiliki rumah sendiri masih di lokasi yang sama hanya berbeda nomor. Yaitu di Jalan Kalipah Apo nomor 42.

Warga sekitar tergerak hatinya untuk membantu keluarga ini dengan membeli lotek buatan Mariana dan Foula. Awalnya mereka merasa iba. Namun, ketika sudah mengenal rasa lotek ini, mereka jadi ketagihan. Rasa loteknya memang enak, manis dan legit.

Sejak itulah, lotek mereka digemari banyak orang. Dan makin terkenal dari mulut ke mulut. Hingga tahun 1980 muncul masa kejayaan Lotek Kalipah Apo 42 ini. Hingga kini masih bertahan meskipun sudah memasuki usia 62 tahun.

Menurut pemilik Lotek Kalipah Apo 42 generasi ketiga, Lydia Jo yang merupakan anak dari Foula, mereka tetap fokus menjalankan bisnis turunan ini. Lydia mengaku tidak ada rahasia khusus yang membuat bisnisnya terus eksis. Katanya, hanya pada penggunaan bahan berkualitas sama seperti neneknya dulu. Kualitas pun dipertahankan, mulai dari proses masak sampai penyajian.

Misalnya, ciri khas yang membedakan dengan lotek lain adalah kacang tanah yang digunakan sebagai bumbu. Kacangnya disangrai dulu tanpa minyak. Mereka juga kerap menyortir kacang, dari mentah, sampai matang bahkan sampai dihaluskan selalu disortir. “Kami masih mempertahankan daya lama waktu proses masak,” jelas Lydia kepada wartawan di Bandung, Kamis (6/8).

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement