Kamis 07 May 2015 16:58 WIB

Membangun Empati Batita

Perkelahian kakak adik
Foto: rsrc.psychologytoday.com
Perkelahian kakak adik

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika bermain, kedua gadis kecil itu berebutan mengambil mainan telepon yang sama, tidak ada yang mengejutkan waktu itu. Tangisan yang meledak ketika Alice merebut mainan itu juga bukan hal yang mengejutkan.  Namun, apa yang terjadi kemudian betul-betul tak terduga: mendengar teman mainnya menangis, Alice menyerahkan telepon itu kepadanya dan meniupkan ciuman dengan tangan yang lain. Ternyata putri saya punya  rasa empati yang lebih besar dari yang saya kira.

Kita sering mengaitkan tahun-tahun batita dengan klaim “saya!” dan “punya saya!” yang sangat kuat.  Namun di balik hal itu adalah sebuah pengenalan sosial, bahwa orang lain punya perasaan juga. Faktanya, usia antara 1 sampai 2 tahun adalah masa untuk mengasah kepedulian.

“Orang dewasa bisa  harus melakukan segala sesuatu yang mungkin dapat membantu anak batita belajar berempati,” kata Acrol Anne Wien, PhD, seorang pakar di bidang early-chilhood dan profesor pada York University di Toronto. “Ini adalah dasar untuk melakukan hubungan dengan orang lain,” ujarnya seperti dikutip dari www.parentsindonesia.com.

Bicarakan Hal Tersebut

Meskipun cerewet, batita mungkin tidak punya kata-kata yang bisa mengungkapkan emosi besar yang dirasakannya.  Itu satu-satunya alasan Grace Ressureccion, seorang ibu di Anaheim, California, secara teratur membawa perasaan  dalam bercakap-cakap dengan putranya, Victor, yang berusia 2 tahun.  Sebagai contoh, ketika adik bayinya menangis, dia bertanya apa penyebabnya kepada Victor?

“Victor mungkin mengatakan  ‘aduh’ atau ‘jatuh’ dan kemudian menepuk punggung adiknya,” katanya. Di waktu lain, Grace memberikan beberapa petunjuk. “Menurut kamu, apakah adikmu sedih karena kamu mengambil mainannya?”  Hal ini memerkuat dan menumbuhkan rasa kepedulian Victor terhadap perasaan orang lain, sekaligus mengajarkannya kosa kata yang diperlukannya untuk membicarakan hal tersebut.

Batita senang mencari perhatian, maka lakukan sesuatu untuk membuat anak Anda menjadi pusat dari pelajarannya sendiri, Dr. Wien menyarankan. Buka sebuah album foto dan tunjukkan gambar dirinya yang sedang senang, tenang, dan rewel: kemudian beri label perasaan tersebut dan ceritakan apa yang mungkin menjadi penyebabnya. Anda mungkin bisa mengatakan, “Kamu begitu gembira ketika semua orang menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun.” Lebih baik lagi, perlihatkan atau jelaskan contoh kebaikan atau bantuannya terhadap orang lain.

“Batita suka melihat kembali hal-hal kecil yang pernah mereka lakukan atau katakan,” Dr. Wien menjelaskan.  “Menceritakan kejadian-kejadian ini merupakan satu cara  yang dapat membuat anak  peduli tentang bagaimana tingkah laku mereka berdampak terhadap orang lain.”

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement