Kamis 10 Sep 2026 20:41 WIB

Studi Griffith University Ungkap Potensi Ozempic untuk Gangguan Bipolar

Potensi manfaat obat GLP-1 untuk kesehatan mental mulai diteliti lebih jauh.

ilustrasi gangguan bipolar
Foto: ilustrasi AI
ilustrasi gangguan bipolar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Obat berbasis semaglutide yang selama ini digunakan untuk menangani diabetes dan obesitas dikaitkan dengan risiko rawat inap psikiatris yang lebih rendah pada pasien gangguan bipolar. Temuan tersebut membuka peluang penelitian baru mengenai penggunaan obat golongan GLP-1 untuk kesehatan mental.

Temuan itu berasal dari penelitian yang dipimpin Profesor Mark Taylor dari School of Medicine and Dentistry, Griffith University, Australia. Peneliti menganalisis data nasional Swedia terhadap 14.694 orang dengan gangguan bipolar selama periode 2009 hingga 2024.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.200 orang tercatat menggunakan obat golongan GLP-1 receptor agonist (GLP-1RA), yang merupakan kelompok obat yang antara lain digunakan untuk diabetes dan obesitas.

Hasil penelitian menunjukkan penggunaan semaglutide berkaitan dengan penurunan 21 persen risiko rawat inap psikiatris dibandingkan periode ketika pasien yang sama tidak menggunakan obat GLP-1. Semaglutide juga dikaitkan dengan penurunan 17 persen risiko rawat inap akibat kekambuhan gangguan bipolar.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Acta Psychiatrica Scandinavica dengan judul Use of Glucagon-Like Peptide 1 Receptor Agonists and the Associated Risk of Hospitalisation in Bipolar Disorder, From a Nationwide Cohort, 2009-2024. Studi tersebut pertama kali dipublikasikan pada Juni 2026.

Profesor Mark Taylor mengatakan, pasien gangguan bipolar yang menggunakan semaglutide menunjukkan tingkat rawat inap psikiatris yang lebih rendah dibandingkan periode ketika mereka tidak menggunakan obat GLP-1.

"Temuan ini menambah bukti yang berkembang bahwa agonis reseptor GLP-1 mungkin memiliki manfaat di luar pengobatan diabetes dan obesitas, serta dapat menjadi jalan baru yang menjanjikan untuk penelitian bipolar," ujar Taylor, seperti dikutip Griffith University.

Peneliti menduga mekanisme biologis yang berkaitan dengan sinyal GLP-1 dapat berperan dalam temuan tersebut. Salah satu hipotesisnya adalah pengaruh terhadap peradangan, stres seluler, dan proses biologis lain yang berkaitan dengan gangguan bipolar. Mekanisme tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Menariknya, hubungan penurunan risiko rawat inap tersebut tidak ditemukan pada seluruh obat GLP-1 yang dianalisis. Liraglutide dan dulaglutide tidak menunjukkan hubungan yang sama dengan penurunan risiko rawat inap psikiatris. Hal ini membuat peneliti menilai efek tersebut belum dapat disebut sebagai efek seluruh kelas obat GLP-1.

Para peneliti juga melakukan sejumlah analisis tambahan untuk menguji konsistensi temuan. Hasilnya, hubungan antara penggunaan semaglutide dan penurunan risiko rawat inap tetap terlihat setelah periode 30 hari pertama penggunaan obat dikeluarkan dari analisis. Ketika rawat inap yang terutama disebabkan oleh gangguan penggunaan zat dikeluarkan, semaglutide masih dikaitkan dengan penurunan risiko sekitar 20 persen.

Meski demikian, penelitian tersebut belum dapat menyimpulkan bahwa semaglutide secara langsung memperbaiki gejala gangguan bipolar. Studi yang dilakukan merupakan studi observasional sehingga masih terdapat kemungkinan faktor lain yang memengaruhi hasil.

Karena itu, Taylor mendorong dilakukannya uji klinis teracak untuk menguji apakah semaglutide benar-benar memiliki efek terapeutik terhadap gangguan bipolar. Peneliti menyebut temuan tersebut sebagai dasar untuk penelitian lanjutan, bukan sebagai perubahan standar pengobatan gangguan bipolar.

Temuan mengenai bipolar tersebut menambah penelitian Griffith University mengenai kemungkinan hubungan obat GLP-1 dengan kesehatan mental. Dalam studi lain yang juga menggunakan data Swedia, lebih dari 95.000 orang dengan diabetes dan/atau obesitas serta riwayat depresi atau kecemasan dianalisis. Penggunaan GLP-1 dikaitkan dengan lebih sedikit kejadian kesehatan mental berat, termasuk rawat inap psikiatris dan kondisi lain yang berkaitan dengan memburuknya kesehatan mental.

Namun, temuan tersebut tetap perlu dibaca secara hati-hati. Obat semaglutide saat ini digunakan untuk indikasi medis tertentu seperti diabetes tipe 2 dan obesitas, sedangkan penelitian mengenai manfaatnya terhadap gangguan bipolar masih berada pada tahap eksplorasi.

Dengan demikian, hasil studi terbaru tersebut belum berarti Ozempic atau Wegovy dapat digunakan sebagai terapi gangguan bipolar. Temuan utamanya adalah adanya hubungan antara penggunaan semaglutide dan lebih rendahnya risiko rawat inap psikiatris pada kelompok pasien tertentu, yang kemudian perlu dibuktikan melalui penelitian klinis lebih lanjut.

Berita Lainnya

Rekomendasi