Senin 07 Sep 2026 23:00 WIB

70 Negara Bahas Masa Depan AI dan Manusia dalam Bali Harmony Encounter

Perkembangan AI dibahas bersama nilai kemanusiaan dan kedamaian.

Kegiatan Bali Harmony Encounter Week 2026 di Bali.
Foto: Istimewa
Kegiatan Bali Harmony Encounter Week 2026 di Bali.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Delegasi dari lebih dari 70 negara membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI), martabat manusia, dan masa depan berkelanjutan dalam Bali Harmony Encounter Week 2026. Rangkaian pertemuan yang berlangsung pada 2-7 September 2026 tersebut mempertemukan unsur pemerintah, teknologi, akademisi, masyarakat sipil, dan komunitas lokal di Bali.

Salah satu agenda dalam rangkaian tersebut adalah Bali Harmony Dialogue yang digelar pada 3 September 2026 di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali. Dialog tersebut mempertemukan pakar dari tiga sektor untuk membahas kesenjangan AI global dan posisi manusia di tengah perkembangan teknologi.

Baca Juga

Dalam kuliah umum bertajuk “Intelligence: Natural and Artificial”, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie membahas posisi negara berkembang dalam perkembangan AI. Pembahasan mencakup kebutuhan agar negara berkembang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut terlibat dalam riset dan tata kelola AI.

Rangkaian kegiatan juga mencakup Consultative Dialogue on Youth yang mempertemukan inovator muda dan pelaku industri. Forum tersebut membahas pendidikan yang menggabungkan keterampilan teknis dengan kepemimpinan etis dan pendekatan yang berpusat pada manusia.

Pada 4-6 September 2026, World Encounter Summit Bali: XI International Scholas Chairs Congress mempertemukan delegasi dari lebih dari 140 universitas di 70 negara. Kongres tersebut mengangkat tema “Artificial Intelligence and Human Meaning” dengan pembahasan mengenai hubungan perkembangan teknologi, makna kemanusiaan, peran pemuda, dan kearifan lokal.

Rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 kemudian mencapai salah satu puncaknya melalui Tri Hita Karana Universal Reflection Ceremony 2026 di Sunset Mandala, Sira Village, KEK Kura Kura Bali, Sabtu (5/9/2026).

Kegiatan tersebut mengusung tema “Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life”. Forum menjadi ruang refleksi mengenai kedamaian di tengah perkembangan teknologi dan perubahan global.

Suyoto mengatakan, kedamaian perlu dipelihara melalui hubungan antarmanusia dan kehidupan sehari-hari. “Kedamaian bukanlah sekadar tujuan akhir yang dicapai melalui teori, melainkan sebuah hubungan yang harus kita rawat secara aktif setiap hari,” ujar Suyoto dalam siaran pers, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, semangat Tri Hita Karana dapat menjadi ruang bersama bagi berbagai agama dan tradisi di Indonesia.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Arskal Salim yang mewakili Menteri Agama Nasaruddin Umar, menekankan peran individu dan komunitas dalam menjaga kedamaian. “Transformasi besar tidak lahir dari satu cahaya raksasa, melainkan dari lilin-lilin kecil yang kita bawa bersama,” jelas Arskal.

Ia mengajak generasi muda dan masyarakat menerapkan nilai kedamaian dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga hingga tempat kerja.

Bali Harmony Encounter Week 2026 menjadi rangkaian pertemuan yang membahas perkembangan AI bersamaan dengan isu kemanusiaan, pendidikan, kepemudaan, dan kedamaian.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi