Senin 17 Aug 2026 22:12 WIB

Makanan Ultra-proses Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Kanker Prostat 

Makanan Ultra-proses cenderung memiliki nilai gizi yang lebih rendah.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Indira Rezkisari
Makanan ultra-proses.
Foto: Dok. Freepik
Makanan ultra-proses.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi menemukan makanan ultra-proses (UPF) berkaitan dengan peningkatan risiko kanker prostat pada pria. Menurut penelitian ini, pria yang mengonsumsi makanan ultra-proses dalam jumlah terbanyak memiliki risiko kanker prostat hingga 34 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsinya lebih sedikit.

Temuan ini dipublikasikan dalam American Journal of Medicine. Peneliti senior sekaligus profesor kedokteran dan kedokteran preventif di Florida Atlantic University, Dr Charles Hennekens, mengatakan hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi UPF dan risiko kanker prostat pada pria dewasa di Amerika Serikat.

Baca Juga

"Di antara pria dewasa dalam populasi Amerika Serikat yang mewakili kondisi nasional, mereka yang mengonsumsi UPF dalam jumlah lebih tinggi memiliki risiko yang secara signifikan lebih tinggi untuk kemudian mengalami kanker prostat," kata Hennekens dilansir laman US News, Senin (17/8/2026).

Menurut dia, temuan tersebut menambah bukti mengenai dampak buruk makanan ultra-proses terhadap kesehatan. Namun, ia menekankan perlunya penelitian observasional berskala besar dan uji klinis acak untuk menguji hubungan tersebut secara lebih kuat.

Apa itu makanan ultra-proses? Ini merupakan produk pangan yang umumnya dibuat melalui berbagai proses industri dan mengandung beragam bahan tambahan. Bahan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan rasa, tampilan, tekstur, maupun daya tahan produk.

Beberapa bahan tambahan yang umum ditemukan antara lain pewarna, pengawet, perisa, dan lainnya. Produk-produk tersebut juga cenderung memiliki nilai gizi yang lebih rendah dibandingkan makanan yang diproses secara minimal.

Contoh makanan ultra-proses meliputi produk roti dan makanan ringan kemasan, sereal dengan kandungan gula tinggi, makanan siap santap atau siap dipanaskan, serta daging olahan seperti hot dog. Di Amerika Serikat, makanan yang diproduksi secara industri tersebut diperkirakan menyumbang sekitar 60 persen asupan energi orang dewasa dan 70 persen dari pola makan anak-anak. 

Dalam penelitian terbaru tersebut, para peneliti menganalisis data lebih dari 17 ribu pria Amerika Serikat berusia 18 tahun ke atas yang berpartisipasi dalam survei kesehatan dan gizi nasional antara 2003 hingga 2023. Para peneliti menggunakan catatan konsumsi makanan selama 24 jam untuk memperkirakan berapa banyak kalori harian peserta yang berasal dari makanan ultra-proses.

Setelah itu, para peserta dipantau untuk mengetahui apakah mereka kemudian mengalami kanker prostat. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok pria dengan konsumsi makanan ultra-proses paling tinggi mempunyai risiko kanker prostat 24 persen hingga 34 persen lebih besar dibandingkan kelompok dengan konsumsi lebih rendah.

Meski demikian, temuan tersebut menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan bukti bahwa makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan kanker prostat.

Peneliti mengakui bahwa mengurangi konsumsi makanan ultra-proses merupakan tantangan kesehatan masyarakat. Timothy De Ver Dye, peneliti sekaligus ketua Departemen Kesehatan Populasi di Florida Atlantic University, mengatakan produk UPF sudah sangat luas tersedia dan mudah diperoleh.

"Mengurangi konsumsi UPF merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang kompleks, terutama karena produk-produk ini sangat umum dan mudah diperoleh," kata Dye.

la juga mengingatkan bahwa pilihan makanan sehat tidak selalu mudah dilakukan oleh semua orang. Banyak pasien menghadapi hambatan dalam mendapatkan dan membeli makanan yang lebih sehat.

Karena itu, menurut Dye, solusi tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat mengubah pilihan makanan secara individual. Diperlukan pula upaya yang lebih luas untuk meningkatkan akses terhadap makanan yang bergizi dan diproses secara minimal.

"Mengatasi tantangan ini memerlukan upaya yang melampaui sekadar pilihan individu, yakni dengan mendukung akses yang lebih luas terhadap makanan bergizi yang minim proses pengolahan."

Hennekens menambahkan temuan penelitian tersebut dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong gaya hidup sehat. la menyarankan tenaga kesehatan untuk mendorong pasien menerapkan kebiasaan hidup sehat dan terapi yang telah didukung bukti ilmiah, sekaligus membantu mereka mengurangi konsumsi makanan ultra-proses.

"Pasien maupun penyedia layanan kesehatan perlu memandang temuan ini sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong pilihan pola makan yang lebih sehat," kata dia.

Berita Lainnya

Rekomendasi