Kamis 13 Aug 2026 19:14 WIB

Vaksin HPV pada Anak SD Dinilai Efektif Cegah Kanker Serviks Hingga 90 Persen

Usia anak kelas 5 dan 6 menjadi waktu ideal untuk mendapatkan vaksin HPV.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) kepada murid sekolah dasar saat pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2026 di SD Karya Budi, Banda Aceh, Aceh, Kamis (6/8/2026). Program BIAS 2026 yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Aceh menargetkan sekitar 290 ribu siswa menerima imunisasi dengan cakupan minimal 95 persen pada setiap jenis antigen dengan tujuan memperkuat kekebalan kelompok (herd immunity) serta melindungi anak usia sekolah dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi, seperti campak, rubela, difteri, tetanus, dan infeksi HPV penyebab kanker leher rahim.
Foto: ANTARAFOTO/Akramul Muslim
Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) kepada murid sekolah dasar saat pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2026 di SD Karya Budi, Banda Aceh, Aceh, Kamis (6/8/2026). Program BIAS 2026 yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Aceh menargetkan sekitar 290 ribu siswa menerima imunisasi dengan cakupan minimal 95 persen pada setiap jenis antigen dengan tujuan memperkuat kekebalan kelompok (herd immunity) serta melindungi anak usia sekolah dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi, seperti campak, rubela, difteri, tetanus, dan infeksi HPV penyebab kanker leher rahim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yaitu pemberian imunisasi lanjutan bagi anak usia sekolah dasar kembali dilakukan. Program ini bertujuan untuk memperkuat kekebalan tubuh terhadap penyakit, salah satunya mencegah risiko kanker serviks.

Dokter spesialis anak subspesialis kesehatan anak infeksi dan penyakit tropis, Prof dr Hinky Hindra Irawan Satari, mengatakan usia anak kelas 5 dan 6 sekolah dasar menjadi waktu yang ideal untuk mendapatkan vaksin Human Papillomavirus (HPV). Menurut dia, pemberian vaksin HPV di usia anak-anak sangat efektif menekan risiko kanker serviks di masa depan.

Baca Juga

"Efektivitasnya tinggi banget kalau HPV diberikan pas masih anak-anak. Bisa lebih dari 90 persen, jadi memang sangat efektif untuk menekan risiko kanker serviks," kata Prof Hinky kepada Republika, Kamis (13/8/2026).

Ketua Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas KIPI) tersebut juga mengatakan tingkat antibodi yang terbentuk pada anak setelah vaksinasi HPV lebih tinggi dibandingkan jika vaksin diberikan ketika dewasa.

"Pada usia anak 11 atau 12 tahun, tubuh mampu merespons antibodi yang lebih baik, dibandingkan ketika dewasa. Dan biasanya pada umur tersebut belum terjadi penularan," kata Prof Hinky.

Terkait jumlah dosis, Prof Hinky menjelaskan pemberian vaksin HPV bergantung pada jenis vaksin yang digunakan. Beberapa jenis vaksin HPV membutuhkan hingga tiga dosis. Namun, vaksin HPV yang digunakan dalam program imunisasi nasional cukup diberikan satu kali.

Menurut dia, penggunaan satu dosis dalam program imunisasi nasional didasarkan pada penelitian yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Rekomendasi WHO tersebut kemudian diadopsi oleh Kementerian Kesehatan.

"Yang program nasional kan cuma satu dosis. Itu penelitiannya dilakukan oleh WHO, jadi direkomendasikannya oleh WHO, jadi diadopsi oleh Kemenkes," kata Prof Hinky.

Namun demikian, pemberian vaksin HPV sejak usia sekolah bukan berarti seseorang tidak perlu melakukan pap smear, yaitu pemeriksaan medis untuk mengambil sampel sel dari leher rahim (serviks) wanita. Prof Hinky menyatakan, perempuan yang telah mendapatkan vaksin HPV saat anak-anak tetap dianjurkan menjalani pap smear saat dewasa.

"Tentu saja tetap perlu pap smear. Tapi nanti di umur 40-an ya," kata dia.

photo
Vaksinasi HPV untuk anak SD. - (Republika)

 

Berita Lainnya

Rekomendasi