REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Metode mendinginkan ketiak dengan es sebagai cara untuk meredakan rasa cemas dan overthinking ramai dibahas di media sosial. Namun apakah cara tersebut terbukti secara medis?
Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) sekaligus dosen di IPB University, dr Riati Sri Hartini, mengatakan sensasi dingin memang dapat memberikan efek menenangkan, tetapi tidak dapat dijadikan terapi utama untuk mengatasi gangguan kecemasan. Menurut dia, kompres dingin dapat membantu menurunkan respons tubuh terhadap stres dengan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang berperan dalam proses relaksasi. Selain itu, sensasi dingin juga dapat mengalihkan perhatian dari pikiran yang berlebihan melalui teknik grounding.
"Efeknya hanya bersifat sementara, yaitu membantu menenangkan tubuh, bukan mengatasi penyebab kecemasan. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup bahwa kompres es di ketiak merupakan terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan atau overthinking," ujar dr Riati dalam keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (1/8/2026).
Ia mengingatkan, masyarakat perlu berhati-hati apabila menjadikan terapi dingin sebagai solusi utama. Menurut dr Riati, kecemasan yang berlangsung terus-menerus hingga mengganggu kualitas tidur, pekerjaan, maupun aktivitas sehari-hari memerlukan evaluasi dan penanganan oleh tenaga kesehatan.
Ia mengatakan penggunaan es secara langsung dalam waktu yang terlalu lama dapat menimbulkan iritasi hingga cedera kulit (cold burn). Oleh karena itu, kompres dingin hanya dapat dimanfaatkan sebagai pertolongan awal untuk membantu menenangkan diri, bukan sebagai pengobatan utama.
"Efektivitas terapi dingin dalam mengatasi keemasan masih terbatas. Jadi itu tidak bisa dijadikan pengobatan utama kecemasan Anda," kata dr Riati.
Ia pun mengungkap berbagai teknik untuk meredakan overthinking yang telah didukung bukti ilmiah antara lain latihan pernapasan, mindfulness, relaksasi, dan grounding. Metode cognitive behavioral therapy (CBT) juga terbukti mampu membantu menurunkan gejala kecemasan.
Untuk menjaga kesehatan mental sehari-hari, dr Riati menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat dengan rutin berolahraga, tidur yang cukup, mengurangi konsumsi kafein, serta membatasi paparan informasi yang dapat memicu kecemasan. Kebiasaan tersebut sebaiknya dipadukan dengan latihan pernapasan, mindfulness, atau teknik relaksasi agar pengelolaan stres menjadi lebih optimal.
"Apabila kecemasan menetap selama beberapa pekan, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai serangan panik, segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Penanganan yang tepat sejak dini akan memberikan hasil yang lebih baik, baik melalui CBT maupun dengan pemberian obat-obatan apabila diperlukan," kata dr Riati.
Sebelumnya, Founder Health Collaborative Center (HCC) dr Ray Wagiu Basrowi mengatakan overthinking atau kekhawatiran berlebihan sebenarnya sebagian besar tejadi hanya di dalam pikiran. Berdasarkan riset, sekitar 85 persen kekhawatiran yang muncul tidak akan pernah terjadi.