Ahad 04 Oct 2026 16:24 WIB

Memuntahkan Makanan Bukan Jalan Pintas untuk Kurus, Dokter Ungkap Bahayanya

Makanan yang dimuntahkan tidak berarti seluruhnya keluar dari tubuh.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Muntah mendadak bisa menjadi salah satu tanda kemunculan strok yang tak biasa. (ilustrasi)
Foto: www.freepik.com
Muntah mendadak bisa menjadi salah satu tanda kemunculan strok yang tak biasa. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memuntahkan makanan setelah makan, baik yang dilakukan sebagai bagian dari konten mukbang maupun dengan alasan mengontrol berat badan, bukan merupakan metode diet yang sehat. Kebiasaan tersebut justru dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan apabila dilakukan secara berulang.

Hal tersebut ditegaskan dokter sekaligus dosen di IPB University, dr Yunita Aryani. la menjelaskan bahwa makanan yang dimuntahkan tidak berarti seluruhnya keluar dari tubuh. "Proses penyerapan zat gizi bahkan telah mulai berlangsung sejak makanan dikonsumsi. Karena itu, memuntahkan makanan bukan cara yang tepat untuk mencegah kenaikan berat badan," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (1/10/2026).

Baca Juga

Jika dilakukan berulang sebagai metode diet, dr Yunita menyebutkan, perilaku tersebut termasuk purging behaviour atau perilaku kompensasi yang tidak sehat. "Kondisi ini dapat membentuk siklus makan berlebihan, munculnya rasa bersalah, ketakutan terhadap kenaikan berat badan, kemudian kembali memuntahkan makanan," kata dia.

Menurut dr Yunita, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan gangguan makan seperti bulimia nervosa. Konten mukbang yang menormalisasi tindakan memuntahkan makanan juga perlu disikapi secara hati-hati karena berpotensi ditiru oleh penonton, terutama remaja dan individu yang memiliki kekhawatiran terhadap berat badan.

Salah satu komplikasi yang dapat terjadi akibat muntah berulang adalah hipokalemia atau kondisi ketika kadar kalium dalam darah terlalu rendah. Muntah menyebabkan kehilangan cairan dan asam lambung sehingga tubuh mengaktifkan mekanisme hormonal untuk mempertahankan cairan. Peningkatan hormon aldosteron kemudian dapat mendorong ginjal membuang lebih banyak kalium melalui urine.

"Hipokalemia dapat menyebabkan lemas, kram otot, konstipasi, kesemutan, jantung berdebar, hingga gangguan irama jantung, Pada kondisi berat, aritmia dapat mengancam nyawa," kata dr Yunita.

Selain hipokalemia, muntah berulang dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan fungsi ginjal, ketidakseimbangan elektrolit serta asam-basa, peradangan dan luka pada kerongkongan, kerusakan enamel gigi akibat paparan asam lambung, hingga risiko tersedak atau masuknya isi lambung ke paru-paru. "Dari sisi psikologis, perilaku ini juga dapat berkaitan dengan kecemasan, depresi, citra tubuh negatif, serta siklus makan dan muntah yang semakin sulit dihentikan," kata dia.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi