Ahad 04 Oct 2026 16:39 WIB

Pembuat Film NAZA Wawancarai Lebih dari 100 Sumber Soal Aksi Israel di Gaza

IDF mengeklaim adanya kesalahan substansial dalam film tersebut.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Sutradara asal Israel, Rachel Szor (kiri) dan Yuval Abraham, tiba untuk pemutaran perdana film Naza di Festival Film Venesia ke-83 di Venesia, Italia, pada 10 September 2026. Film tersebut ditampilkan dalam kompetisi resmi Venezia 83 di festival yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 12 September 2026.
Foto: Dok. EPA/ETTORE FERRARI
Sutradara asal Israel, Rachel Szor (kiri) dan Yuval Abraham, tiba untuk pemutaran perdana film Naza di Festival Film Venesia ke-83 di Venesia, Italia, pada 10 September 2026. Film tersebut ditampilkan dalam kompetisi resmi Venezia 83 di festival yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 12 September 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim di balik film dokumenter NAZA mengungkapkan mereka telah berbicara dengan lebih dari 100 sumber yang mengetahui sistem pembunuhan massal warga Gaza oleh militer Israel. Hal itu disampaikan sebagai respons terhadap pernyataan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang berupaya membantah dan mendiskreditkan isi film tersebut.

Dalam pembelaannya, IDF mengeklaim adanya kesalahan substansial dalam film tersebut. Mereka menilai film NAZA menyajikan gambaran yang menyimpang mengenai proses perencanaan serta pelaksanaan serangan.

Baca Juga

Menurut IDF, film tersebut hanya mengandalkan wawancara terhadap sekitar dua lusin personel intelijen dan militer yang hanya memiliki gambaran parsial mengenai proses persetujuan target. IDF mengeklaim aturan pelibatan militernya secara jelas membedakan antara militan dan warga sipil. Militer Israel juga menyatakan aturan tersebut melarang penargetan warga sipil secara sengaja dan mewajibkan komandan mengambil langkah untuk meminimalkan korban sipil. 

IDF mengakui penggunaan kecerdasan buatan atau Al untuk membantu merekomendasikan calon target di Gaza. Namun, militer Israel menyatakan keputusan akhir mengenai serangan dan risiko korban sipil tetap ditandatangani oleh para perwira. IDF juga membantah pernah menyetujui, merencanakan, atau melaksanakan serangan yang diperkirakan akan menelan 500 korban jiwa demi menyerang satu target Hamas. 

Pernyataan IDF ini menyusul upaya sebelumnya dari para politisi Israel untuk menepis NAZA, sebuah akronim militer yang digunakan secara eufemistik oleh intelijen Israel untuk menunjukkan perkiraan jumlah warga sipil yang akan tewas dalam serangan udara. Upaya penolakan ini disertai dengan ancaman pembunuhan terhadap sutradara film tersebut, Yuval Abraham dan Rachel Szor, serta seruan dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar kewarganegaraan Israel mereka dicabut.

Menanggapi pernyataan IDF, The Guardian selaku pihak yang memproduksi film, membantah klaim Israel bahwa 24 narasumber dalam NAZA merupakan personel berpangkat rendah yang hanya mengetahui tahap awal proses penargetan. Menurut The Guardian, narasumber tersebut mencakup perwira dan prajurit yang terlibat dalam berbagai tahap proses penentuan target di Gaza, termasuk intelijen, operasi, hingga proses pemberian otorisasi akhir terhadap serangan.

"Upaya IDF untuk menggambarkan 24 peserta dalam NAZA sebagai perwira pangkat rendah yang hanya terlibat dalam tahap awal proses penargetan adalah salah," kata seorang juru bicara dilansir dari laman The Guardian, Ahad (4/10/2026).

The Guardian mengatakan proses untuk menilai kredibilitas kesaksian para narasumber dilakukan secara ketat. Proses ini mencakup dokumen rahasia yang bocor, verifikasi terperinci terhadap sejumlah serangan tertentu, serta konfirmasi silang melalui jaringan sumber jurnalistik yang tidak tampil dalam film.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi