REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film horor Obsession meraih pencapaian besar di box office dunia dengan mengantongi lebih dari 400 juta dolar AS (sekitar Rp7,1 triliun). Ini menjadi capaian luar biasa mengingat film yang disutradarai oleh YouTuber Curry Barker tersebut diproduksi dengan anggaran 750 ribu dolar AS (Rp13 miliar).
Setelah dua bulan tayang di bioskop, Obsession mengumpulkan 245 juta dolar AS dari bioskop di AS dan 157 juta dolar AS di pasar global. Di saat sebagian besar film mulai sepi penonton setelah delapan pekan penayangan, Obsession justru terus menunjukkan performa impresif.
Selama libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli, film tersebut masih meraih 5,3 juta dolar AS di Amerika Utara dan 12 juta dolar AS dari pasar internasional. Dengan capaian itu, Obsession kini semakin dekat menembus angka 250 juta dolar AS di Amerika Utara, sebuah angka yang hanya mampu dicapai segelintir film di tengah tantangan industri perfilman pascapandemi Covid-19.
Film thriller ini mulai tayang pada Mei dengan pendapatan pembuka sebesar 17 juta dolar AS di Amerika Utara, sebuah awal yang menjanjikan untuk sebuah film orisinal. Namun yang membuat perjalanannya istimewa adalah peningkatan penjualan tiket dari pekan ke pekan.
Ulasan positif dari mulut ke mulut dan antusiasme penonton Gen Z terus mendorong jumlah penonton untuk Obsession. Keberhasilan ini juga menjadi bukti bahwa penonton muda masih memiliki minat besar untuk menonton di bioskop. Bersama film horor Backrooms produksi A24, Obsession dinilai berhasil mematahkan anggapan bahwa generasi TikTok tidak lagi tertarik menikmati film di layar lebar.
Film Backrooms yang disutradarai YouTuber bernama Kane Parsons (20 tahun), mencetak hasil luar biasa dengan pendapatan global mencapai 347 juta dolar AS hingga saat ini. Sebelumnya, Iron Lung, adaptasi gim video independen yang didanai sendiri oleh YouTuber Mark Fischbach atau Markiplier, juga sukses besar di box office setelah dirilis pada Februari.
Produser Jason Blum, yang memproduksi Obsession dan Backrooms melalui perusahaan Blumhouse-Atomic Monster, mengatakan munculnya tren tersebut menunjukkan adanya pasar baru bagi film horor. "Ada generasi baru penonton bioskop yang menunjukkan selera yang sangat spesifik terhadap film horor yang tidak biasa. Banyak pihak mengkhawatirkan masa depan bioskop, dan ini merupakan area pertumbuhan baru yang nyata," kata Blum dikutip dari Variety, Senin (6/7/2026).