Rabu 13 May 2026 16:42 WIB

Ahli Kesehatan Tekankan Pengendalian Rodensia demi Tangkis Hantavirus

Hantavirus dapat menyebabkan dua manifestasi klinis utama yang fatal.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Sebuah ambulans yang membawa pasien dari kapal pesiar MV Hondius yang diduga terinfeksi hantavirus tiba di Pusat Medis Universitas Leiden (LUMC) di Leiden, Belanda, Rabu (6/5/2026).
Foto: EPA/JOSH WALET
Sebuah ambulans yang membawa pasien dari kapal pesiar MV Hondius yang diduga terinfeksi hantavirus tiba di Pusat Medis Universitas Leiden (LUMC) di Leiden, Belanda, Rabu (6/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam beberapa waktu terakhir, hantavirus menjadi sorotan kesehatan global setelah mewabah di kapal pesiar MV Hondius. Meski kasus hantavirus strain Andes belum dideteksi di Indonesia, namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 23 kasus positif hantavirus strain Seoul Virus di Indonesia periode 2024 hingga 2026.

Merespons hal ini, pakar mikrobiologi klinik dari Universitas Airlangga Dr Agung Dwi Wahyu Widodo menegaskan pentingnya pengendalian hewan pengerat (rodensia) seperti tikus liar sebagai langkah utama pencegahan penularan virus tersebut. Hantavirus merupakan virus RNA yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus liar. Adapun penularan utama pada manusia terjadi melalui inhalasi aerosol dari urine, feses, atau saliva tikus yang terinfeksi.

Baca Juga

photo
Bus yang mengangkut warga negara Spanyol penumpang kapal pesiar MV Hondius dari Pangkalan Udara Torrejon ke Rumah Sakit Militer Gomez Ulla di Madrid, Spanyol, 10 Mei 2026. Pesawat militer yang membawa 14 warga negara Spanyol dari MV Hondius, yang terkena wabah hantavirus, mendarat di Pangkalan Udara Torrejon setelah mereka turun di Tenerife. Mereka dipindahkan ke Rumah Sakit Militer Gomez Ulla untuk karantina. - (EPA/FERNANDO VILLAR)

 

"Kunci utama pencegahan hantavirus adalah pengendalian rodensia secara ketat. Inspeksi rutin, dengan menutup akses masuk tikus ke dalam hunian maupun fasilitas kesehatan," kata Dr Agung dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (13/5/2026).

Selain itu, disinfeksi lingkungan juga menjadi bagian krusial dalam pencegahan. Area yang berisiko disarankan untuk dibersihkan menggunakan klorin 0,1 persen atau desinfektan standar rumah sakit guna memastikan potensi kontaminasi dapat diminimalisasi.

Dr Agung juga menekankan pentingnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas kesehatan, terutama saat menangani pasien suspek sesuai indikasi medis yang berlaku. "Edukasi Masyarakat dengan memberikan pemahaman kepada keluarga pasien untuk menghindari paparan langsung dengan debu atau area yang terkontaminasi kotoran tikus," kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ameera Network (@ameeranetwork)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement