Rabu 18 Feb 2026 15:35 WIB

Cegah Bunuh Diri Anak, KPAI Ajak Semua Pihak Bersatu Lindungi Generasi Muda

Pencegahan dimulai dari keluarga, sekolah, dan penguatan resiliensi anak-anak.

Garis polisi.  (ilustrasi). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengimbau adanya kolaborasi antarkementerian/lembaga untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak, termasuk mencegah kembali terjadinya kasus anak mengakhiri hidup.
Foto: Antara/Oky Lukmansyah
Garis polisi. (ilustrasi). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengimbau adanya kolaborasi antarkementerian/lembaga untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak, termasuk mencegah kembali terjadinya kasus anak mengakhiri hidup.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengimbau adanya kolaborasi antarkementerian/lembaga untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak, termasuk mencegah kembali terjadinya kasus anak mengakhiri hidup. Hal ini untuk menanggapi kasus anak perempuan (14 tahun) yang diduga mengakhiri hidup di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

"Kami berharap lintas kementerian lembaga betul-betul melakukan pencegahan secara serentak agar anak-anak tidak ada lagi yang mengakhiri hidup. Pencegahan dimulai dari keluarga, sekolah, dan penguatan resiliensi anak-anak," kata anggota KPAI Diyah Puspitarini saat dihubungi di Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Baca Juga

Polisi saat ini masih menyelidiki kasus ini, termasuk mendalami adanya dugaan perundungan. "KPAI sedang berkoordinasi dengan semua pihak atas kejadian ini terutama di PPU (Penajam Paser Utara), agar anak yang meninggal diketahui dengan pasti penyebab kematiannya. Dan jangan sampai anak mendapat stigma negatif," kata Diyah.

Peristiwa nahas yang merenggut nyawa remaja perempuan (14) itu terjadi pada Kamis (12/2/2026). Kematian korban diketahui pertama kali oleh bibinya.

photo
Bunuh diri/ilustrasi - (Max Pixel)

 

Pada dua pekan sebelumnya, kasus anak diduga mengakhiri hidup terjadi di Kabupaten Ngada, NTT, pada Kamis (29/1/2026), yang diduga karena kondisi ekonomi keluarga. Anak laki-laki berinisial YBR (10), seorang siswa kelas 4 SD Negeri di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya.

Semasa hidup, korban tinggal bersama neneknya yang berusia lanjut, sementara ibunya berinisial MGT (47) tinggal di kampung lain bersama dua saudara korban. Sementara dua saudara tiri korban sudah berusia dewasa dan merantau ke Papua dan Kalimantan.

Ibu korban menafkahi lima anak, termasuk korban. Korban adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayah kandungnya pergi merantau saat korban masih di kandungan ibunya, dan hingga kini tak pernah kembali.

 

Kehidupan adalah anugerah berharga dari Allah SWT. Segera ajak bicara kerabat, teman-teman, ustaz/ustazah, pendeta, atau pemuka agama lainnya untuk menenangkan diri jika Anda memiliki gagasan bunuh diri. Konsultasi kesehatan jiwa bisa diakses di hotline 119 extension 8 yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes juga bisa dihubungi pada 021-500-454. BPJS Kesehatan juga membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan
sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement