Kamis 26 Mar 2026 22:47 WIB

Cara Ampuh Atasi Drama Anak Malas Sekolah Seusai Libur Lebaran

Tak disarankan bagi orang tua membawa anak pulang dari mudik pada H-1 masuk sekolah.

Membangunkan anak untuk sekolah setelah libur panjang Lebaran (ilustrasi).
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Membangunkan anak untuk sekolah setelah libur panjang Lebaran (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Momen usainya libur panjang Lebaran sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua. Setelah berhari-hari menikmati suasana santai, berkumpul bersama keluarga besar, hingga bebas dari tugas sekolah, anak-anak tiba-tiba harus kembali ke sekolah.

Transisi ini sering kali tidak berjalan mulus. Ada drama tangisan pada pagi hari bagi yang masih kecil, hingga wajah muram dan malas-malasan bagi mereka yang sudah beranjak remaja.

Baca Juga

Guru Besar Psikologi dari Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, mengatakan ketidaknyamanan ini adalah hal yang sangat manusiawi. Menurutnya, penyebab utama anak merasa berat kembali ke sekolah adalah kontrasnya situasi antara masa liburan dan masa sekolah. Saat libur, anak-anak merasa nyaman karena segalanya terasa fleksibel dan mengikuti keinginan mereka.

“Anak menjadi tidak nyaman karena setelah liburan, salah satunya penyebabnya waktu liburan situasinya lebih santai, lebih bisa sesuai dengan apa yang diinginkan anak,” ujar Prof Rose Mini saat dihubungi Republika pada Kamis (26/3/2026).

photo
Siswa SD (ilustrasi). - (Republika/Prayogi)

 

Kontras ini menjadi semakin tajam ketika anak teringat akan aturan ketat yang menanti di depan mata, mulai dari keharusan bangun pagi, sarapan tepat waktu, hingga konsekuensi sekolah jika terlambat. Menariknya, psikolog yang akrab disapa Bunda Romi ini menyoroti bahwa ekspresi ketidaksiapan ini muncul dengan cara yang berbeda tergantung usia anak.

Bagi anak usia dini, emosi yang meledak-ledak adalah bentuk komunikasi. Mereka mungkin akan mengalami tantrum atau menjadi sangat rewel. Tidak jarang, ketidaksiapan mental ini bermanifestasi menjadi gejala fisik atau psikosomatis.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement