REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Mediodecci Lustarini, mengatakan kecerdasan buatan meningkatkan risiko penipuan di dunia digital. Menurutnya, Al seperti deepfake saat ini menjadi modus penipuan baru yang banyak memakan korban.
Komdigi mencatat, setidaknya kerugian akibat modus penipuan berbasis Al dilaporkan telah mencapai Rp700 miliar. "Sekarang itu modus penipuan semakin kompleks dengan adanya Al, jadi ketika ada Al, deepfake, video itu semakin meyakinkan, semakin sulit untuk dibedakan dengan yang palsu. Yang pada akhirnya membuat masyarakat dirugikan," kata dia dalam konferensi pers TikTok di kawasan Menteng, Selasa (16/12/2025).
Menurut Mediodecci, serangan digital juga sering kali berbasis identitas, di mana data pribadi dan kredensial pengguna menjadi target utama akibat lemahnya sistem autentikasi. Kondisi ini menunjukkan perlindungan digital tidak bisa hanya bersifat reaktif.
"Jadi memang harus ada pencegahan jangka panjang untuk membangun resiliensi masyarakat terhadap ancaman digital," kata Mediodecci.
Selain meningkatkan literasi digital, khususnya terkait Al, Komdigi juga bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menindak pelaku kejahatan siber melalui Undang-Undang ITE, Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP), dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Di sisi masyarakat, edukasi tentang bahaya deepfake berbasis Al juga terus dilakukan.
"Ketika kita bicara literasi itu goalsnya bukan hanga orang mampu atau tahu bahwa dia akan mungkin terkena penipuan atau terkena deepfake. Tapi yang penting, kemampuan masyarakat untuk mengenali deepfake harus ditingkatkan," kata dia.