Selasa 10 Mar 2026 16:17 WIB

Perut Buncit dan Keras Bisa Jadi Sinyal Kanker Ginjal pada Anak

Dokter menjelaskan kapan kondisi perut buncit harus dibawa ke RS.

Anak merasakan sakit di bagian perut (ilustrasi). Keterlambatan diagnosis kanker ginjal pada anak di Indonesia sering kali dipicu oleh penundaan pencarian bantuan medis akibat orang tua yang terlalu lama melakukan observasi mandiri dengan asumsi gangguan pencernaan ringan.
Foto: Musiron/Republika
Anak merasakan sakit di bagian perut (ilustrasi). Keterlambatan diagnosis kanker ginjal pada anak di Indonesia sering kali dipicu oleh penundaan pencarian bantuan medis akibat orang tua yang terlalu lama melakukan observasi mandiri dengan asumsi gangguan pencernaan ringan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, perut anak yang membuncit atau terasa keras sering kali hanya dianggap sebagai tanda masuk angin atau sembelit karena belum buang air besar (BAB). Langkah pertama yang biasanya diambil adalah membalur perut dengan minyak kayu putih, minyak telon, atau ramuan tradisional lainnya.

Namun di balik gejala yang tampak sepele dan "biasa" tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang jauh lebih serius yaitu kanker ginjal. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan bahwa keterlambatan diagnosis kanker ginjal pada anak di Indonesia sering kali dipicu oleh penundaan pencarian bantuan medis akibat orang tua yang terlalu lama melakukan observasi mandiri dengan asumsi gangguan pencernaan ringan.

Baca Juga

Pakar hemato onkologi anak dr Nur Melani Sari, Sp.A, Subsp.HO(K), memaparkan betapa tipisnya perbedaan antara gas di dalam perut dengan massa tumor yang padat jika hanya dilihat dengan mata telanjang. "Membedakannya adalah selain kita raba, itu diketuk biasanya. Kalau udara itu akan terdengar suaranya, kalau di istilah kedokterannya itu timpani. Tapi kalau misalnya dia padat, dia itu kayak meredam, suaranya pekak," ujar dr Sari.

photo
ILUSTRASI Anak sakit. - (pxhere)

Teknik ketukan atau perkusi ini merupakan standar medis yang dinilai akurat untuk menentukan apakah isi perut anak adalah udara (kembung) atau justru jaringan tumor yang solid. Kepekaan untuk membedakan suara "tung-tung-tung" yang kosong dengan suara yang tumpul dan meredam bisa menjadi garis pemisah antara penanganan yang tepat dan keterlambatan yang berisiko fatal.

Dokter Sari juga menyoroti bahaya dari pengobatan mandiri yang tidak kunjung membuahkan hasil. Dia menyarankan agar orang tua mulai bersikap kritis jika gejala yang dialami anak bersifat menetap atau persisten.

"Orang tua kalau bisa menemukan gejala yang persisten. Jadi kok terus-menerus setelah upaya tradisional dilakukan besoknya muncul lagi, lebih baik dipastikan. Teorinya orang tua ini make sense nggak gitu, dan itu harus yang memastikannya adalah tenaga medis," kata dia.

Kecepatan dalam memutuskan untuk berhenti mengobati secara tradisional dan beralih ke pertolongan medis profesional adalah titik balik krusial yang menentukan masa depan kesehatan anak. Selain pemeriksaan perut, pola pembuangan anak juga harus dipantau dengan teliti. Sembelit memang umum pada anak, namun ada batasan yang harus dipahami orang tua.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement