Senin 09 Mar 2026 06:27 WIB

Lebih dari 230 Juta Orang per Pekan Pakai ChatGPT Tanya Soal Kesehatan

Menurut studi, penggunaan Al untuk konsultasi medis berisiko membahayakan kesehatan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Pengguna ChatGPT (ilustrasi). OpenAl mencatat lebih dari 230 juta orang setiap pekan menggunakan ChatGPT untuk menanyakan berbagai persoalan medis, mulai dari memastikan keamanan makanan, mengelola alergi, hingga mencari cara meredakan flu.
Foto: Dok. Freepik
Pengguna ChatGPT (ilustrasi). OpenAl mencatat lebih dari 230 juta orang setiap pekan menggunakan ChatGPT untuk menanyakan berbagai persoalan medis, mulai dari memastikan keamanan makanan, mengelola alergi, hingga mencari cara meredakan flu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penggunaan kecerdasan buatan (Al) seperti ChatGPT untuk mencari saran kesehatan semakin meningkat. OpenAl mencatat lebih dari 230 juta orang setiap pekan menggunakan ChatGPT untuk menanyakan berbagai persoalan medis, mulai dari memastikan keamanan makanan, mengelola alergi, hingga mencari cara meredakan flu.

Namun, studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature mengingatkan bahwa penggunaan Al untuk konsultasi medis berisiko membahayakan kesehatan. Penelitian tersebut menemukan bahwa ChatGPT Health tidak selalu mampu mengenali situasi yang memerlukan penanganan darurat.

Baca Juga

"Dari penelitian kami, ChatGPT Health memang bekerja dengan baik pada keadaan darurat klasik seperti stroke atau reaksi alergi berat. Tapi sistem tersebut tak bisa mengenali kondisi medis dengan bahaya tersembunyi," kata peneliti utama dari Mount Sinai New York, Ashwin Ramaswamy, dilansir laman Euronews, Senin (9/3/2026).

Dalam salah satu uji coba mengenai asma, peneliti mencatat, sistem sebenarnya mampu mengidentifikasi tanda awal kegagalan pernapasan dalam penjelasannya. Meski begitu, ChatGPT Health tetap menyarankan pengguna untuk menunggu, alih-alih segera mencari bantuan medis darurat.

Tim peneliti membuat 60 skenario klinis terstruktur di 21 spesialisasi medis dengan kasus mulai dari kondisi ringan yang sesuai untuk perawatan di rumah hingga keadaan darurat medis yang sebenarnya. Tiga dokter independen kemudian menentukan tingkat urgensi yang tepat untuk setiap kasus dengan mengacu pada pedoman dari 56 organisasi medis.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement