Ahad 28 Apr 2024 21:52 WIB

Influencer Promosikan Suplemen Embel-Embel Sehat, Masyarakat Diimbau tak Langsung Percaya

Jangan mudah tergiur dengan nutrisi yanh dipromosikan para influencer.

Rep: Shelbi Asrianti / Red: Qommarria Rostanti
Suplemen (ilustrasi). Masyarakat diimbau tak langsung percaya jika asa in
Foto: www.freepik.com
Suplemen (ilustrasi). Masyarakat diimbau tak langsung percaya jika asa in

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbagai saran terkait nutrisi dan diet berseliweran dengan bebas di dunia maya. Banyak influencer membagikan kiat terkait pola makan dan nutrisi, atau jenama kesehatan yang memasarkan produknya dengan embel-embel sehat dan bernutrisi.

Ahli gizi terdaftar Desiree Nielsen mengimbau masyarakat tidak percaya begitu saja dengan anjuran nutrisi di media sosial. Penulis buku Plant Magic itu mengaku ngeri setiap kali menelusuri berbagai platform dan melihat apa yang dianggap sebagai anjuran nutrisi. 

Baca Juga

Nielsen mencontohkan, dia pernah melihat seorang influencer mengunggah video "apa yang saya makan dalam sehari", diawali dengan dirinya selfie mengenakan bikini. Seolah-olah, meniru pola makan orang tersebut akan membuat tubuh kita terlihat seperti mereka.

"Saya juga melihat orang-orang yang mengatakan bahwa makanan olahan berbahaya dalam satu tarikan napas dan kemudian mencoba menjual bubuk protein olahan pada saat berikutnya," kata Nielsen, dikutip dari laman Bon Appetit, Ahad (28/4/2024). 

Dia menjelaskan, apa yang diucapkan banyak influencer atau figur publik yang tak kompeten di bidang nutrisi belum terbukti akurasinya. Karena itu, Nielsen menganjurkan tidak percaya berlebihan dengan postingan, podcast, atau berbagai konten lain. 

"Kita mengembangkan keterikatan pada orang-orang yang karismatik dan sehat, dan ketika mereka memberi tahu kita bahwa gandum bersifat inflamasi, atau kedelai buruk bagi Anda, kita cenderung memercayai mereka. Tidak peduli bahwa penelitian menyatakan sebaliknya," ucap Nielsen.

Dia menyayangkan hal tersebut, sebab kebisingan informasi terkait nutrisi yang dicitrakan media sosial dapat terus-menerus membuat seseorang terpapar dan menjadi sumber kecemasan. Karena itu, menetapkan batasan yang jelas adalah ide yang bagus. Dalam pandangan Nielsen, jika sebuah anjuran kesehatan yang bukan disampaikan ahlinya justru membuat seseorang merasa bingung, cemas, atau bersalah mengenai pilihan makanan, segera tinggalkan dan lupakan. Prioritaskan kesejahteraan mental Anda.

Carilah informasi akurat atau langsung berkonsultasi dengan praktisi kesehatan, bukan mendapat kiat dan anjuran dari influencer media sosial. "Ingatlah, satu-satunya detoks yang paling efektif dalam kesehatan adalah dengan menekan tombol berhenti berlangganan," ungkapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement