Senin 22 Apr 2024 16:05 WIB

Nagita Slavina Berbagi Makanan Bekas Gigitannya, Dokter Ungkap Cara Hormati Orang Lain

Berbagi makanan yang sudah digigit tidak bisa dianggap tanda keakraban.

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda
Figur publik Nagita Slavina. Kumpulan video yang viral di media sosial perlihatkan Nagita berbagi makanan bekas gigitannya kepada pegawainya.
Foto: Republika/ Umi Nur Fadhilah
Figur publik Nagita Slavina. Kumpulan video yang viral di media sosial perlihatkan Nagita berbagi makanan bekas gigitannya kepada pegawainya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Adab figur publik Nagita Slavina yang kedapatan kerap memberikan makanan bekas gigitannya kepada orang lain menuai kritik pedas dari warganet. Dari segi medis, adakah risiko kesehatan yang bisa terjadi akibat kebiasaan tersebut?

Menurut praktisi kesehatan dr Tan Shot Yen, tentu ada risiko perpindahan bakteri dari kebiasaan semacam itu. Menurut dr Tan, perilaku seperti itu tidak patut ditiru.

Baca Juga

"Pasti ada risiko menularkan bakteri dan penyakit," kata dr Tan kepada Republika.co.id, Senin (22/4/2024).

Dokter Tan mengatakan yang semua penyakit yang bisa ditularkan lewat droplet, pasti bisa menular lewat berbagi makanan seperti itu. Menurut dia, pandemi Covid-19 yang dimulai 2020 lalu telah mengajarkan banyak hal kepada masyarakat.

Pandemi membuat masyarakat belajar tentang pentingnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Demikian juga dengan panduan 3M yang meliputi penggunaan masker dengan benar, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Panduan tersebut dapat membuat orang terhindar dari tertular penyakit dari droplet yang sudah terkontaminasi virus. Meski pandemi telah usai, gaya hidup bersih dan sehat ini penting untuk tetap dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

"Termasuk menjaga higiene dan sanitasi pribadi," kata dr Tan yang juga ahli gizi masyarakat.

Dokter Tan mencontohkan kebiasaan baik jika hendak berbagi makanan. Sebaiknya, sediakan porsi terpisah dengan alat makan sendiri-sendiri.

Orang bisa memotong makanan dengan sendok atau pisau bersih sebelum dimakan dan dibagikan. Begitu juga saat berbagi minuman, sebaiknya ada porsi masing-masing, bukan dalam gelas yang sama dan sedotan terpisah.

"Juga bukan minum dengan satu gelas sedotan terpisah. Bagi saja per gelas masing-masing," ujar dia.

Dokter Tan tidak sepakat dengan anggapan bahwa berbagi makanan bekas gigitan bisa disebut lazim karena orang lain sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Ia mengingatkan, risiko kesehatan bisa dialami siapa saja, meskipun anggota keluarga tersebut terlihat tidak sedang sakit.

"Keluarga sendiri pun sebaiknya tidak, kecuali suami istri kan ya ada kontak fisik intim. Itu pun jika salah satu orang sudah sakit mestinya tidak berbagi," ujar dr Tan.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement