Senin 15 Apr 2024 05:04 WIB

Mengapa Anak-Anak yang Kecanduan Teknologi Kelak Lebih Berisiko Terkena Psikosis?

Penyebab dari masalah itu mungkin bukan karena teknologi.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Reiny Dwinanda
Main ponsel (Ilustrasi). Anak yang kecanduan gawai kelak berisiko mengalami psikosis di usia dewasa.
Foto: EPA-EFE/ROMAN PILIPEY
Main ponsel (Ilustrasi). Anak yang kecanduan gawai kelak berisiko mengalami psikosis di usia dewasa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah penelitian menunjukkan anak-anak yang kecanduan ponsel pintar, iPad, dan gim video lebih mungkin menderita episode psikotik di kemudian hari. Para ilmuwan menemukan bahwa penggunaan ponsel pintar dan media sosial pada masa remaja dikaitkan dengan paranoia, delusi, halusinasi, dan "ide-ide aneh" ketika orang mencapai usia 23 tahun.

Di lain sisi, para peneliti mengatakan bahwa penyebab dari masalah itu mungkin bukan karena teknologi. Kecanduan anak terhadap perangkat-perangkat teknologi bisa menjadi peringatan bahwa mereka sudah rentan terhadap penyakit mental.

Baca Juga

"Meningkatnya penggunaan media dan masalah kesehatan mental tampaknya memiliki faktor risiko yang sama, seperti masalah-masalah kesehatan mental orang tua, kesepian, intimidasi, dan masalah-masalah hubungan orang tua-anak," kata tim asal Kanada yang berada di balik penelitian tersebut, dilansir Daily Mail, Ahad (14/4/2024).

Temuan tim tersebut telah dipublikasikan di jurnal JAMA Psychiatry.  Mereka juga memperingatkan bahwa memaksa anak-anak yang kecanduan untuk bersikap menghentikan secara tiba-tiba mungkin tidak membantu dan bisa lebih berbahaya. Contohnya, dengan secara tiba-tiba melarang mereka menonton di gawainya.

Studi tersebut mengamati kebiasaan-kebiasaan media dan pengalaman psikotik dari 2.120 warga Kanada yang lahir pada 1997 dan 1998. Temuannya adalah bahwa mereka yang secara drastis mengurangi penggunaan komputer masih lebih sering mengalami pengalaman-pengalaman psikotik di masa dewasa, bahkan setelah pengalaman pribadi lainnya dipertimbangkan.

Dikatakan juga bahwa penggunaan internet lebih terkait erat dengan depresi dibandingkan bermain gim video atau menonton televisi. Sementara itu, bermain gim mungkin lebih mendukung pengaturan emosi dan pengembangan keterampilan-keterampilan sosial dibandingkan bentuk teknologi pasif seperti TV.

Para peneliti menyarankan para dokter untuk mempertimbangkan alasan remaja yang kecanduan gawai dan menderita pengalaman-pengalaman psikotik menjadi ketagihan alih-alih menyalahkan teknologi.

"Penggunaan teknologi digital yang tinggi pada masa remaja dapat menjadi penanda awal, bukan penyebab dari masalah kesehatan mental di kemudian hari," ujar Dr Simona Skripkauskaite dari Oxford University, Inggris.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement