Selasa 02 Apr 2024 06:45 WIB

Anak Perempuan Usia 5-12 Alami Penurunan Kepercayaan Diri Kreatif, Ini Penyebabnya

Kepercayaan diri kreatif didefinisikan sebagai keberanian mengembangkan ide baru.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
Anak perempuan mengalami penurunan kepercayaan diri kreatif (ilustrasi). Anak perempuan usia 5 hingga 12 tahun kerap mengalami penurunan kepercayaan diri kreatif.
Foto: www.freepik.com.
Anak perempuan mengalami penurunan kepercayaan diri kreatif (ilustrasi). Anak perempuan usia 5 hingga 12 tahun kerap mengalami penurunan kepercayaan diri kreatif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi mengungkap hal yang bisa menghambat kepercayaan diri kreatif anak perempuan. Bertajuk "Play Well 2024 Research", studi itu mengungkap bahwa anak perempuan berusia 5-12 tahun bisa mengalami penurunan kepercayaan diri kreatif. Hal ini terjadi akibat tekanan untuk mencapai kesempurnaan dan pengaruh bahasa sehari-hari.

Kepercayaan diri kreatif didefinisikan sebagai keberanian untuk mencoba dan menerima kegagalan saat mengembangkan ide-ide baru. Hal itu amat memengaruhi anak-anak hingga dewasa. Survei mencakup pertanyaan yang menyoroti kepercayaan diri kreatif anak-anak serta pentingnya faktor-faktor seperti ketakutan akan kegagalan, tekanan untuk menjadi sempurna, dan penggunaan bahasa.

Baca Juga

Survei yang merupakan bagian dari kampanye "Play Unstoppable" dari The LEGO Group itu dilakukan terhadap lebih dari 61.500 orang tua dan anak usia lima hingga 12 tahun di 36 negara, termasuk Indonesia. Hasilnya, 76 persen anak merasa percaya diri dalam kreativitas, namun hal itu cenderung menurun seiring bertambahnya usia. 

Dua pertiga dari semua anak perempuan yang terlibat survei sering merasa khawatir untuk berbagi ide. Hal ini diperberat oleh beban perfeksionisme dan kecemasan membuat kesalahan (72 persen), bahasa yang seolah-olah membatasi bereksperimen (71 persen), dan kebutuhan akan kesempurnaan (73 persen).

 

Sejumlah 80 persen anak mengatakan, mereka akan lebih berani untuk mencoba hal-hal baru jika kesalahan yang diperbuat justru dianggap peluang untuk belajar. Anak perempuan yang disurvei juga mengatakan bahwa mereka merasa terdorong oleh pujian growth-mindset seperti imajinatif, berani, dan menginspirasi.

Ada cara untuk membantu keluarga menumbuhkan kepercayaan diri kreatif anak melalui kekuatan bermain dan bahasa sehari-hari. Peneliti parenting Jennifer B Wallace bekerja sama dengan The LEGO Group untuk meluncurkan panduan parenting "10 Steps to Fostering Creative Confidence".

Hal itu sejalan dengan kampanye Play Unstoppable dari The LEGO Group, yang bertujuan mendorong anak untuk bereksperimen dan mengekspresikan diri secara kreatif. Panduan yang diluncurkan Wallace dan The LEGO Group berisi tips tentang cara menumbuhkan kepercayaan diri kreatif.

Salah satunya, menghindari stereotipe gender saat berbicara tentang ide-ide kreatif. Contoh dari streotipe gender adalah penggunaan kata-kata seperti "jenius", "pintar", dan "berani" untuk mendeskripsikan apa yang dilakukan anak laki-laki, namun cenderung memakai ungkapan "cantik" dan "lucu" sebagai pujian untuk anak perempuan.

Sebagai gantinya, Wallace menyarankan untuk menggunakan campuran kata-kata tersebut, juga mendorong anak-anak untuk bertanya dan mempertanyakan stereotipe sosial. Selain itu, orang tua perlu membebaskan anak melakukan kesalahan saat bermain.

Secara khusus di Indonesia, dari 643 anak yang disurvei dalam "Play Well 2024 Research", 96 persen responden menganggap bermain LEGO membantu mereka mengatasi ketakutan akan kesalahan. Sebanyak 97 persen merasa lebih percaya diri dalam keterampilan kreatif mereka, dan 96 persen merasa aktivitas bermain LEGO membantu mereka belajar bahwa kemajuan lebih penting daripada kesempurnaan. 

VP Brand Global di The LEGO Group, Alero Akuya, mengatakan, kreativitas menjadi kekuatan yang membedakan seseorang dari lainnya dalam era yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (AI). Oleh karena itu, kreativitas atau kebebasan kreatif merupakan hal yang relevan serta perlu dikembangkan, bahkan sejak usia dini. Kepercayaan diri kreatif, keberanian, dan keyakinan diri disebutnya sebagai fondasi penting.

"Ketika anak perempuan memiliki ruang dan kebebasan untuk mengekspresikan diri secara penuh, mereka menjadi tak terhentikan. Mereka menjadi penemu yang gemar bermain, ilmuwan yang penuh dengan rasa ingin tahu, pemimpi dan petualang yang berani, dan itulah yang kami rayakan dengan gerakan Play Unstoppable," ujar Akuya melalui pernyataan resminya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement