Sabtu 23 Mar 2024 15:49 WIB

Mengenal Kanker Sarkoma Rahim, Penyakit Langka yang Diidap Aktris Alice Norin

Sarkoma merupakan bentuk kanker langka yang menyerang tulang dan jaringan ikat tubuh.

Rep: Shelbi Asrianti / Red: Friska Yolandha
Alice Norin. Aktris Alice Norin telah mengungkap kepada publik bahwa dirinya mengidap kanker sarkoma yang muncul di organ rahimnya.
Foto: Republika/Novita Intan
Alice Norin. Aktris Alice Norin telah mengungkap kepada publik bahwa dirinya mengidap kanker sarkoma yang muncul di organ rahimnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktris Alice Norin telah mengungkap kepada publik bahwa dirinya mengidap kanker sarkoma yang muncul di organ rahimnya. Setelah diagnosis pada Desember 2023, Alice diketahui telah melakukan operasi sebagai upaya menghilangkan kanker sarkoma rahim tersebut.

Adapun kanker sarkoma rahim merupakan salah satu subtipe dari kanker sarkoma, yakni tumor kanker yang muncul dari jaringan lunak tubuh. Sarkoma merupakan bentuk kanker langka yang menyerang tulang, jaringan ikat tubuh, dan area seperti pembuluh darah, otot, saraf, dan lemak. 

Baca Juga

Konsultan senior onkologi medis di Parkway Cancer Centre Singapura, Richard Quek, menjelaskan perbedaan antara kanker sarkoma rahim dengan kanker yang umum muncul pada rahim (karsinoma rahim). Perbedaannya ada pada jenis sel rahim yang diserang.

"Pada kanker rahim, tumor muncul dari sel-sel yang berada di bagian tengah rahim, sedangkan sarkoma rahim tumbuh di jaringan rahim yag lebih dalam, seperti otot dan jaringan ikat," kata Quek pada sesi media gathering yang digelar Parkway Cancer Centre, belum lama ini.

Secara tingkat agresivitas pun, keduanya berbeda. Kanker rahim relatif agresif dan tumbuh dengan cepat, sementara kanker sarkoma rahim tumbuh dengan lambat. Kasus kanker sarkoma pada rahim pun sangat langka, angkanya sekitar tiga persen per tahun.

Kaum hawa perlu mewaspadai sejumlah gejala yang bisa menjadi tanda sarkoma rahim, seperti pendarahan post-menopause (31-46 persen), pendarahan rahim yang tidak normal (27-34 persen), perut terasa penuh, dan gangguan buang air kecil. Akan tetapi, bisa juga tidak ada gejala sama sekali.

Pengobatan terbaik untuk menangani berbagai jenis sarkoma secara umum adalah dengan pendekatan multidisipliner atau dari banyak sisi, termasuk gabungan dari tindakan operasi, radiasi, dan kemoterapi. Namun, untuk kanker sarkoma rahim, menurut Quek, hanya perlu dilakukan operasi, tanpa radiasi atau kemoterapi.

Sayangnya, tingkat kekambuhan sarkoma rahim pada pasien bisa mencapai 50 persen, meski tindakan penanganan yang dilakukan telah berhasil. Selain itu, belum ada langkah yang efektif mencegah kanker sarkoma rahim. Penyebabnya pun belum diketahui secara pasti. 

Setelah pasien didiagnosis mengidap kanker sarkoma rahim, pembersihan sarkoma melalui operasi perlu dilakukan secara menyeluruh. Ada opsi pengangkatan rahim apabila sarkoma terpantau sudah berukuran besar, namun itu bergantung pada keputusan pasien dan keluarga.

"Terkadang, ukuran sarkoma bisa tumbuh menjadi sangat besar sehingga operasi pengambilan tumor saja tidak memungkinkan. Jika benjolan besar, sebaiknya rahim diangkat. Terlebih, apabila pasien sudah berkeluarga atau ada di usia menopause," ucap Quek.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement