Jumat 23 Feb 2024 16:38 WIB

Timbulkan Beban Ekonomi, Dokter Ungkap 3 Masalah Utama Hipertensi di Indonesia

Prevalensi hipertensi terus meningkat di Indonesia.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda
Pemeriksaan tekanan darah (Ilustrasi). Pengobatan yang teratur dan adekuat berperan penting dalam mencegah terjadinya komplikasi hipertensi yang bisa memberikan beban ekonomi besar.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pemeriksaan tekanan darah (Ilustrasi). Pengobatan yang teratur dan adekuat berperan penting dalam mencegah terjadinya komplikasi hipertensi yang bisa memberikan beban ekonomi besar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah penderita hipertensi mengalami terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik di dunia maupun di Indonesia. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi akan ada 1,5 miliar orang di dunia yang terkena hipertensi pada 2025.

Menurut Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dr Erwinanto SpJP(K) FIHA, permasalahan hipertensi di Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain di dunia. Meski menghadapi permasalahan yang sama, beban akibat hipertensi di Indonesia bisa terasa lebih signifikan dibandingkan beberapa negara lain di dunia.

Baca Juga

Terkait hal ini, dr Erwinanto mengatakan ada tiga masalah utama hipertensi yang dihadapi oleh Indonesia. Salah satu masalah tersebut adalah prevalensi hipertensi yang terus meningkat.

"Prevalensi hipertensi nggak pernah turun. Di dunia juga nggak pernah turun. Besar (prevalensinya) adalah 34 persen pada 2018 di Indonesia," jelas dr Erwinanto.

 

Sebagai perbandingan, prevalensi hipertensi di Indonesia pada 2013 adalah 25,8 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 34,1 persen pada 2018, menurut Riskesdas 2018.

Dampak dari prevalensi hipertensi yang terus meningkat ini terasa semakin signifikan karena diikuti dengan populasi Indonesia yang besar. Seperti diketahui, saat ini Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia. Per 2023, populasi Indonesia mencapai lebih dari 277 juta jiwa.

"Katakanlah, prevalensi hipertensi di Singapura lima persen. Lima persen dari penduduk Singapura itu kecil, sedangkan lima persen dari penduduk Indonesia itu besar sekali," ujar dr Erwinanto.

Dengan kata lain, prevalensi hipertensi yang sama di antara dua negara bisa memberikan dampak atau beban yang jauh berbeda. Negara dengan populasi yang besar tentu harus menanggung beban akibat hipertensi dan komplikasi hipertensi yang lebih berat.

Hal kedua yang menjadi permasalahan utama hipertensi di Indonesia adalah rendahnya kepatuhan terhadap pengobatan. Mengacu pada Riskesdas 2018, sebanyak 13,3 persen penderita hipertensi tidak minum obat dan sebanyak 32,3 persen penderita hipertensi minum obat namun tidak teratur.

Sedangkan menurut data dari 2013, hanya ada 35 persen penderita hipertensi di Indonesia yang diobati. Sebagai perbandingan, penderita hipertensi di Amerika Serikat yang menjalani pengobatan di 2013 mencapai 75 persen.

Pengobatan yang teratur dan adekuat berperan penting dalam mencegah terjadinya komplikasi hipertensi yang bisa memberikan beban ekonomi besar, seperti serangan jantung, strok, dan gagal ginjal. Menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, ketiga kondisi tersebut termasuk ke dalam delapan penyakit katastropik yang menyedot biaya terbanyak.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement