Ahad 18 Feb 2024 17:36 WIB

Women from Rote Island, Kisah Pilu Wanita dalam Belenggu Kekerasan Seksual

Film Women From Rote Island berhasil mengantongi sejumlah penghargaan bergengsi.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti
Salah satu adegan di film Women from Rote Island. Film ini menyoroti isu yang sangat pelik mengenai kekerasan seksual pada wanita.
Foto: Dok. Bintang Cahaya Sinema/Langit Terang Sine
Salah satu adegan di film Women from Rote Island. Film ini menyoroti isu yang sangat pelik mengenai kekerasan seksual pada wanita.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film Women from Rote Island akhirnya pulang ke Tanah Air. Sebelum tayang di Indonesia, film ini telah lebih dulu diputar perdana di 28th Busan International Film Festival.

Film yang berhasil mengantongi sejumlah penghargaan bergengsi ini menyoroti isu yang sangat pelik mengenai kekerasan seksual pada wanita. Women from Rote Island berkisah mengenai seorang ibu bernama Orpa yang baru saja kehilangan suaminya. Dia bersikeras untuk menunda prosesi pemakaman sang suami karena menunggu kepulangan anaknya, Martha. Meski mendapatkan banyak tantangan, Orpa tetap teguh untuk mewujudkan permintaan terakhir dari sang suaminya tersebut.

Baca Juga

Setelah lama dinanti, Martha yang bekerja sebagai TKI akhirnya bisa pulang ke rumahnya di Pulau Rote. Semua orang menyambut Martha dengan bahagia dan rasa lega karena akhirnya suami Orpa bisa dimakamkan sesuai dengan adat istiadat.

Namun di luar dugaan Orpa, Martha ternyata kembali ke rumah dengan membawa trauma yang mendalam akibat kekerasan seksual yang dia alami ketika menjadi TKI. Trauma ini pun membuat sikap Martha menjadi sulit diprediksi dan memunculkan keresahan di antara warga kampung.

Alih-alih membantu Martha, stigma dan diskriminasi dari warga kampung justru membuat keluarga Orpa semakin terpojok. Orpa yang kini menjadi ibu tunggal harus menghadapi kegetiran demi kegetiran hidup yang seakan tak pernah berpihak kepada dirinya dan anak-anak perempuannya.

Film Women from Rote Island menyajikan beragam isu yang menyelimuti wanita ketika menghadapi realitas kekerasan seksual di Indonesia Timur. Film ini memberikan gambaran bahwa penegakkan keadilan bagi para korban pelecehan seksual terkadang masih terhadang oleh sistem hukum, kondisi sosial, hingga budaya.

Produser Rizka Shakira mengungkapkan bahwa kebanyakan orang sering kali hanya mendengar soal masalah kekerasan seksual. Ketika suatu masalah hanya didengar, orang-orang mungkin tak bisa benar-benar merasakan kegetiran yang dialami oleh para korban.

"Berbeda dengan kita melihat secara utuh, seperti melalui film ini bisa melihat audio visualnya. Akan lebih sakit dan lebih tertampar. 'Oh, ternyata korban kekerasan seksual separah ini kalau tidak dilakukan penanganan yang tepat'," ujar Rizka dalam press screening film Women from Rote Island di Epicentrum XXI, Jakarta.

Selama proses produksi film berlangsung, Rizka mengungkapkan mereka sempat berbincang dengan beberapa komunitas dan mendatangi korban-korban kekerasan seksual. Rizka mengungkapkan bahwa banyak dari mereka yang menerima perlakuan yang tidak adil meski meski menjadi korban.

"Ada yang sampai putingnya dicabut dengan tang. Kami terenyuh. Semoga dengan film ini, kalau bisa, stop kekerasan seksual. Kami masih berlakukan (menyumbangkan) 2,5 persen (pendapatan) untuk korban kekerasan seksual," ujar Rizka.

Hal senada diungkapkan oleh Jeremias Nyangoen, selaku sutradara sekaligus penulis film Women from Rote Island. Jeremias mengungkapkan bahwa film ini lahir karena rasa sayangnya kepada sang ibu.

"Dasarnya karena ibu saya perempuan. Saya sangat sayang sekali sama ibu saya. Saya ingin bikin sesuatu untuk beliau, untuk perempuan, untuk mama-mama, untuk emak-emak," ujar Jeremias.

Melalui film ini, Jeremias tak hanya ingin meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kekerasan seksual. Dia juga ingin mendorong para orang tua agar lebih berperan aktif dalam kehidupan anak-anak mereka, sehingga dapat melindungi mereka dari risiko menjadi korban kekerasan seksual atau bahkan menjadi pelakunya.

Pemeran Opra dalam film, Linda Adoe, berharap film ini bisa membantu para korban kekerasan seksual untuk bangkit dan berani melawan serta melapor. Linda juga berharap film ini dapat mengingatkan para korban bahwa mereka semua berarti.

"Film ini dipersembahkan untuk kalian semua di luar sana, baik perempuan atau laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual. Film ini untuk kalian. Kami ada untuk kalian," ujar Linda.

Performa luar biasa

Para aktris dan aktor yang terlibat di film ini mampu menunjukkan performa yang luar biasa dalam menghidupkan karakter mereka. Padahal, tak sedikit dari mereka yang baru pertama kali terlibat dalam proyek layar lebar, seperti Linda dan Irma Novita Rihi yang memerankan Martha.

Di samping itu, tangan dingin Jeremias juga mampu membuat penonton merasa ikut masuk ke dalam film. Dalam sejumlah adegan one shot long take misalnya, penonton bisa merasa seperti sedang berada di tengah-tengah para karakter dan menjadi bagian dari mereka.

Tak heran, film Women from Rote Island mampu membawa Jeremias memenangkan penghargaan Best Director dan Best Original Screenwriter dari Indonesian Film Festival. Irma juga memenangkan penghargaan JAFF Indonesian Screen Award-Best Performance dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Selain itu, Joseph Christoforus Fofid pun memenangkan penghargaan Best Cinematography dari Indonesian Film Festival dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Tak hanya itu, Film ini juga menyabet penghargaan Best Long Story Film dari Indonesian Film Festival.

Film Women from Rote Island akan segera menyapa para penonton di Indonesia. Film ini akan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia pada 22 Februari, sebelum nantinya akan kembali berkelana ke berbagai negara. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement