Sabtu 10 Feb 2024 14:42 WIB

Serigala Ini Mampu Hidup di Chernobyl Bekas Reaktor Nuklir yang Meledak

Serigala yang tinggal di Chernobyl disebut mulai memiliki resistensi terhadap kanker.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti
Serigala (ilustrasi). Serigala liar yang berkeliaran di area tinggi radiasi Chernobyl, Ukraina, terlihat mulai memiliki resistensi terhadap kanker.
Foto: Dok. Freepik
Serigala (ilustrasi). Serigala liar yang berkeliaran di area tinggi radiasi Chernobyl, Ukraina, terlihat mulai memiliki resistensi terhadap kanker.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Serigala liar yang berkeliaran di area tinggi radiasi Chernobyl, Ukraina, terlihat mulai memiliki resistensi terhadap kanker. Temuan ini diharapkan dapat membantu para ilmuwan untuk mengembangkan terapi pengobatan kanker di masa depan.

Chernobyl merupakan sebuah kota di Ukraina yang kini terbengkalai dan tak lagi dihuni oleh manusia. Chernobyl mulai ditinggalkan oleh manusia setelah reaktor nuklir pada pembangkit listrik di kota tersebut meledak. Ledakan tersebut memancarkan radiasi pemicu kanker ke berbagai wilayah di sekitar pembangkit listrik.

Baca Juga

Seperti dilansir SKY News pada Sabtu (10/2/24), tragedi yang terjadi pada 1986 ini membuat lebih dari 100 ribu penduduk Chernobyl harus dievakuasi. Area seluas 2.600 km di sekitar lokasi ledakan terjadi juga menjadi Zona Eksklusi Chernobyl (CEZ) yang tak boleh dimasuki manusia karena dapat meningkatkan risiko kanker. Sejak saat itulah, Chernobyl menjadi wilayah terbengkalai yang tak lagi bisa dihuni oleh manusia.

Meski manusia telah meninggalkan Chernobyl, sejumlah satwa liar seperti serigala dan kuda masih berkeliaran di kota terbengkalai tersebut hingga saat ini. Hal ini mendorong ahli biologi dan ekotoksikologi di Princeton University, Cara Love, untuk melakukan studi terhadap serigala yang berhasil bertahan hidup di Chernobyl meski terpapar partikel radioaktif.

 

Melalui studi ini, Love dan timnya mengunjungi CEZ pada 2014 dan memasangkan radio collar atau kalung radio pada beberapa serigala di sana. Radio collar ini berfungsi untuk membantu tim peneliti memantau pergerakan para serigala.

Selain itu, radio collar tersebut bisa memberikan hasil pengukuran real time mengenai seberapa banyak paparan radiasi yang diterima oleh para serigala. Love dan tim juga mengambil sampel darah dari para serigala untuk memahami bagaimana tubuh mereka merespons radiasi pemicu kanker yang ada di Chernobyl.

Berdasarkan data-data yang terhimpun, tim peneliti menemukan bahwa para serigala di Chernobyl terpapar radiasi hingga 11,28 milirem setiap hari sepanjang hidup. Angka tersebut enam kali lebih tinggi dari batas aman paparan radiasi untuk manusia.

Menurut Love, paparan radiasi yang tinggi dalam jangka panjang ini memicu terjadinya perubahan sistem imun pada serigala-serigala Chernobyl. Perubahan sistem imun yang terjadi mirip seperti perubahan sistem imun pada pasien kanker yang menjalani terapi radiasi.

Selain itu, Love dan tim juga menemukan adanya informasi genetik yang berbeda pada serigala Chernobyl. Informasi genetik ini tampak sangat resilien terhadap peningkatan risiko kanker. Mutasi ini membuat serigala-serigala di Chernobyl lebih terlindungi dari kanker.

Untuk saat ini, Love dan tim belum bisa kembali ke CEZ dan melanjutkan penelitiannya karena Pandemi Covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina. Meski begitu, mereka akan kembali melanjutkan studi ini bila kondisi sudah aman serta memungkinkan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement