Senin 05 Feb 2024 16:28 WIB

Pemerintah Punya Sederet Program untuk Turunkan Kasus Stunting, Apa Saja?

Angka stunting di Indonesia telah mengalami penurunan menjadi 21 persen pada 2022.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Friska Yolandha
Dalam upaya menurunkan prevalensi (angka kejadian) stunting, pemerintah Indonesia telah mencanangkan sejumlah program.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Dalam upaya menurunkan prevalensi (angka kejadian) stunting, pemerintah Indonesia telah mencanangkan sejumlah program.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam upaya menurunkan prevalensi (angka kejadian) stunting, pemerintah Indonesia telah mencanangkan sejumlah program. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak yang ditandai kurangnya tinggi badan.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, Senin (5/2/2024), pemerintah telah menggencarkan intervensi spesifik untuk mengatasi stunting. Terdapat 11 jenis intervensi spesifik untuk mencapai target penurunan stunting pada 2024.

Baca Juga

Diketahui bahwa angka stunting di Indonesia telah mengalami penurunan, yakni dari 24,4 persen pada 2021 menjadi 21,6 persen pada 2022. Di tahun 2024, pemerintah menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen dengan adanya pelaksanaan intervensi spesifik.

Adapun 11 intervensi spesifik yang dirancang Kemenkes antara lain skrining anemia, konsumsi tablet tambah darah (TTD) remaja putri, dan pemeriksaan kehamilan (ANC). Dilakukan pula konsumsi tablet tambah darah ibu hamil dan pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kurang energi kronik (KEK).

 

Selain itu, pemerintah menggencarkan pemantauan pertumbuhan balita di berbagai daerah, anjuran pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, pemberian MPASI kaya protein hewani bagi anak di bawah dua tahun, tata laksana balita dengan masalah gizi, dan peningkatan cakupan dan perluasan imunisasi. Digagas juga edukasi remaja ibu hamil dan keluarga.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam sebuah pernyataan menyampaikan bahwa 11 program intervensi spesifik itu diarahkan pada dua fase pertumbuhan. Fase pertama yakni saat ibu mengandung atau sebelum melahirkan, sementara fase kedua yang dimaksud adalah sesudah ibu melahirkan, yang utamanya menyasar pada bayi usia 0-24 bulan.

Kedua fase itu diutamakan sebab menjadi determinan terhadap stunting yang paling tinggi. Artinya, penyebab tingginya stunting ada di fase-fase tersebut. Sementara, apabila anak sudah diketahui mengalami stunting, harus ditangani oleh dokter anak di rumah sakit daerah.

Menkes menganalogikan stunting seperti kanker dengan sejumlah stadium. Sebelum masuk ke kondisi stunting, akan melewati empat stadium. Stadium satu yaitu weight faltering atau berat badan tidak naik. Stadium dua yaitu underweight atau berat badan kurang. Stadium tiga malnutrition atau gizi kurang, dan stadium empat adalah gizi buruk. "Jangan biarkan anak-anak kita melewati stadium weight faltering dan underweight karena kalau sudah stunting akan susah sembuh,” ucap Budi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement