Kamis 01 Feb 2024 13:05 WIB

Angka Kelahiran Bayi di Korea Merosot: Ribuan Day Care Tutup, Panti Wreda Tumbuh Subur

Dalam waktu 12 tahun, jumlah kelahiran di Korsel mengalami penurunan signifikan.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti
Ibu dan bayinya di Korea Selatan (ilustrasi). Jumlah day care di Korea Selatan merosot, sementara panti wreda tumbuh subur. Angka kelahiran di Korsel mengalami penurunan signifikan.
Foto: Dok. EPA-EFE/YONHAP SOUTH KOREA OUT
Ibu dan bayinya di Korea Selatan (ilustrasi). Jumlah day care di Korea Selatan merosot, sementara panti wreda tumbuh subur. Angka kelahiran di Korsel mengalami penurunan signifikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam kurun waktu lima tahun, jumlah tempat penitipan anak (day care) yang beroperasi di Korea Selatan menyusut lebih dari 20 persen. Namun dalam periode yang sama, jumlah fasilitas untuk lansia di Korea Selatan mengalami pertumbuhan signifikan.

Berdasarkan data terbaru dari Pemerintah Korea Selatan, ada lebih dari 40 ribu fasilitas day care yang beroperasi di negara tersebut pada 2017. Namun pada penghujung 2022, jumlah tersebut mengalami kemerosotan menjadi 30.900 fasilitas, seperti dilansir CNN pada Kamis (1/2/2024).

Baca Juga

Tren serupa juga terlihat di ibu kota Korea Selatan, Seoul. Jumlah pusat penitipan anak di kota tersebut mengalami penyusutan sebesar 24 persen, dari 6.226 fasilitas di 2017 menjadi 4.712 di 2022.

Seperti dilansir Korea Herald, tren penurunan pusat penitipan anak di Seoul sebenarnya sudah berlangsung selama delapan tahun berturut-turut, sejak 2014 hingga 2022. Pada 2014, tercatat bahwa jumlah pusat penitipan anak di Seoul masih berjumlah 6.787. Jumlah ini menurun jadi 6.598 pada 2015, lalu menjadi 6.368 pada 2016, hingga mencapai angka di bawah 5.000 pada 2022.

 

Penurunan ini berkaitan dengan semakin rendahnya angka kelahiran di Korea Selatan. Tak hanya berdampak pada fasilitas penitipan anak, banyak sekolah dasar, SMP, serta SMA di Korea Selatan yang juga harus tutup karena kekurangan murid usia sekolah.

Sebuah sekolah di Daejeon, Seoul, yang tutup karena kekurangan murid kini berubah menjadi spot fotografi yang populer. Suasana bangunan kosong yang sedikit menakutkan juga membuat bangunan sekolah tersebut menjadi destinasi populer bagi komunitas penjelajah kota.

Ironisnya, dalam periode yang sama yaitu 2017-2022, jumlah fasilitas lansia (panti di Korea Selatan justru mengalami penambahan yang signifikan. Jumlah fasilitas lansia bertambah dari 76 ribu pada 2017 menjadi 89.643 di 2022 menurut Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan. Fasilitas lansia ini mencakup sejumlah layanan, mulai dari panti jompo, rumah sakit khusus, serta agensi kesejahteraan untuk membantu lansia.

Kedua tren ini mencerminkan situasi yang kini sedang dihadapi oleh Korea Selatan. Di satu sisi, Korea Selatan merupakan negara dengan pertumbuhan populasi lansia yang paling cepat di dunia. Di sisi lain, Korea Selatan juga merupakan negara dengan angka kelahiran terendah di dunia.

Tren penurunan angka kelahiran di Korea Selatan sudah mulai terlihat sejak 2015. Penurunan ini tampaknya tidak mengalami perbaikan meski pemerintah sudah menawarkan insentif keuangan hingga subsidi perumahan untuk pasangan yang memiliki lebih banyak anak.

Mengapa angka kelahiran rendah?

Dalam kurun waktu 12 tahun, jumlah kelahiran di Korea Selatan mengalami penurunan signifikan dari sekitar 640 ribu pada tahun 2000 menjadi 249 ribu di 2022, seperti dilansir Statista. Padahal, agar pasar tenaga kerja dapat berfungsi, Korea Selatan membutuhkan minimal 500.000 kelahiran bayi per tahun. Oleh karena itu, situasi ini dianggap sudah menjadi masalah yang mendekati kondisi kedaruratan nasional menurut Financial Times.

Menurut sejumlah ahli, angka kelahiran yang rendah di Korea Selatan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Sebagian di antaranya adalah budaya kerja yang menuntut, gaji yang stagnan, kenaikan biaya hidup, serta beban keuangan dalam membesarkan anak. Selain itu, masyarakat Korea Selatan juga menunjukkan perubahan sikap terhadap pernikahan dan kesetaraan gender.

Selain itu, ada semakin banyak perempuan di Korea Selatan yang memilih untuk tidak menikah, tidak mempunyai anak, dan bahkan tidak menjalin hubungan asmara, seperti dilansir BBC. Tren ini muncul karena didorong oleh beragam faktor, seperti tidak ingin merasakan sakit saat melahirkan, ingin berfokus pada impian dan menjalani hidup sendiri, hingga tuntutan pekerjaan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement