Kamis 25 Jan 2024 12:03 WIB

Hari Gizi Nasional Jatuh pada Hari Ini, Ini Sejarah dan Alasannya

Hari gizi diperingati untuk mengenang pengkaderan tenaga gizi Indonesia pada 1951.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Friska Yolandha
Ilustrasi makan sehat. Hari Gizi Nasional (HGN) diperingati setiap tanggal 25 Januari.
Foto: Freepik
Ilustrasi makan sehat. Hari Gizi Nasional (HGN) diperingati setiap tanggal 25 Januari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari Gizi Nasional (HGN) memiliki akar sejarah yang panjang dalam upaya perbaikan gizi masyarakat di Indonesia. Sejak 1950, Menteri Kesehatan dr J Leimena menunjuk Prof Poorwo Soedarmo sebagai kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR), yang dikenal sebagai Instituut Voor Volksvoeding (IVV). Prof Poorwo Soedarmo dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia, sementara LMR menjadi lembaga yang berperan dalam pengkaderan tenaga gizi di Indonesia.

Dilansir Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan pada Kamis (25/1/2024), HGN sendiri diperingati untuk mengenang dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia melalui pendirian Sekolah Juru Penerang Makanan oleh LMR pada 25 Januari 1951. Sejak saat itu, pendidikan tenaga gizi terus berkembang pesat di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Karena itu, tanggal 25 Januari ditetapkan sebagai Hari Gizi Nasional Indonesia.

Baca Juga

Peringatan HGN pertama kali diadakan oleh LMR pada pertengahan tahun 1960-an, dan dilanjutkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Tema besar HGN di era RPJMN 2015-2019 adalah “Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi”.

Pada peringatan HGN ke-59 (2019), pejabat yang saat itu menduduki posisi Dirjen Kesehatan Masyarakat, yaitu dr. Kirana Pritasari, menyampaikan bahwa peringatan HGN menjadi momentum penting untuk menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen dari berbagai pihak dalam membangun gizi menuju bangsa sehat berprestasi.

Prestasi gizi Indonesia mengalami perbaikan dalam prevalensi masalah gizi, terutama gizi kurang dan stunting. Meskipun masih di atas ambang batas WHO untuk masalah Kesehatan Masyarakat, prevalensi gizi kurang dan stunting menurun berturut-turut dari 19,6 persen menjadi 17,7 persen, dan dari 37,2 persen menjadi 30,8 persen, berdasarkan Riskesdas 2013-2018.

Namun, dr Kirana mengingatkan bahwa Indonesia akan menghadapi tantangan masalah gizi lebih dan obesitas, serta penyakit tidak menular yang cenderung meningkat. Karena itu, upaya perbaikan gizi masyarakat memerlukan koordinasi dan penguatan intervensi sensitif, serta konvergensi dan keberlanjutan program.

Intervensi gizi sensitif yang melibatkan sektor nonkesehatan juga diakui sebagai elemen kunci keberhasilan perbaikan gizi masyarakat. Dirjen Kesehatan Masyarakat menekankan bahwa upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga adalah kunci untuk mencapai hasil yang maksimal. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement